Kamis, 29 Desember 2011

Lagu Bidadari Kecil

di tulis oleh jiwa yang damai
Kutengok hati yang bergeming,
dalam nada-nada bisu
yang lantunkan bait demi bait perasaan,
dengan diam yang sunyi..
mencandai sepi dengan lirik-lirik romantika,
menyuarakan hati yang bersandar di keteduhan cinta,,

Aku jatuh cinta,
untuk sekali lagi..

Akulah bidadari itu,
yang lantunkan melodi-melodi rindu,
untuk kutitipkan lewat angin,
agar terhembus di padang tandus jiwamu..
Akulah bidadari itu,
yang ciptakan baris-baris nada,
dengan not-not cinta,
untuk kutitipkan pada pagi,
agar mengembun di lembah sunyi hatimu..
Akulah bidadari kecil,
yang diturunkan dari langit,
untuk menggubah lagu cinta, dan sayang
untuk menemani waktumu..

ayah, ibu..
lagu cintaku terus terlantun sejak tangis menjadi liriknya..

puisi picisan masa SMA,

8 Maret 2008

Rabu, 28 Desember 2011

Aku

mungkin lumpuh, mungkin tuli, tapi tak buta..
mungkin kesal, mungkin marah, tapi bukan benci..
mungkin sedih, mungkin terluka, tapi tidak meratapi..
mungkin cemburu, tanpa tapi, karena sayang, karena cinta..

gagal bukan salah,
gagal bukan tak berhasil,
gagal adalah tak punya daya untuk bangkit

kehilangan yg dulu, bukan berarti tak bisa ditemukan sekarang..
aku khilangan teman, sahabat, saudara,
dan,
aku kehilanganmu,
berharap kembali tapi seperti tak ada jalan,
buntu

semakin dirimu nyenyak dalam bias fatamorgana padang pasir,
setelah kau reguk, tercampakkan pahitnya
atau sebaliknya
mereguk pahit dan mencampakkan setelahnya,
ternyata maknanya sama saja,

pasrahkan kehilangan, memang tak bisa kembali,
kecuali aku ingin



15 Nov 2010

Menulis, sebuah refleksi diri untuk mencipta sejarah

Menulis adalah suatu bentuk eksistensi peradaban yang amat sangat besar. Tulisan menjadi realisasi dan implementasi dari pengetahuan yang dimiliki oleh suatu peradaban. Tulisan mampu mengabarkan kejayaan dan kemajuan sebuah umat sekaligus menjadi motivasi besar perubahan peradaban menuju arah yang lebih baik. Tulisan meninggalkan sejarah yang selalu bisa dikaji kembali untuk memulai peradaban yang lebih baru lagi. Kejayaan peradaban dan pengetahuan Eropa yang kini telah jauh meninggalkan Islam, sebelum dulunya pernah dipegang oleh Islam, lebih banyak disebabkan oleh budaya membaca dan menulis yang telah luntur dari kaum muslimin.

Menulis menjadi suatu hal yang gampang-gampang susah. Ingat, bahwa ada dua gampang dan satu susah. Menjadi seorang penulis memang bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Namun pasti, menulis bisa dimulai dengan belajar dan membaca. Penulis yang baik dimulai dengan menjadi pembaca. Seorang penulis, hendaklah membaca baik teks maupun kentekstual untuk kemudian bisa mencurahkan hasil bacaannya menjadi tulisan dan bacaan baru yang realistis dan logis, sekalipun yang berupa tulisan fiksi.

Tulisan merupakan refleksi dari karakter dan watak penulisnya. Dari gaya kepenulisan dan isi ataupun materi tulisannya dapat dilihat bagaimana kepribadian bahkan lingkungan tinggal penulisnya. Tulisan-tulisan tentu memiliki tingkat kualitas, ada yang high, medium, bahkan yang di bawah garis kelayakan. Pesannya, Jangan sampai tulisan kita terlihat konyol dan membuat orang lain tertawa. Jangan membuat orang lain mengernyitkan dahi, bukan karena penasaran dengan tulisan kita, tapi karena bingung setengah mati. Apalagi jika sampai membuat orang jengkel dan marah karena tulisan acak kadul kita.

Menulis catatan, seperti diary misalnya, bukan sekedar bagaimana kita menuliskan kisah dari perjalanan kita sebagai tulisan biasa -bahkan mungkin luar biasa (buruk)- yang ditumpahkan kemudian tidak layak sama sekali untuk di baca. Tulisan sesederhana apapun, harus mampu menjadi kenangan yang suatu saat ingin kita baca dan ingin kita nikmati, bahkan layak kita publikasikan dan kita bagi pada orang lain. Maka saat itulah tulisan kita bekerja.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushshilat: 33)
Menulis itu bukan hanya cukup dengan menyenangkan hati kita, memuaskan hasrat kita untuk mencurahkan uneg-uneg kita, tapi tujuan utamanya adalah untuk dibaca orang lain. Untuk memberi suatu manfaat bagi orang lain, baik sebagai hiburan, informasi, maupun pengetahuan. Menulis memiliki fungsi untuk menyeru pada kebaikan dan kemaslahatan umat.

Percaya diri menjadi salah satu kunci yang harus dimiliki penulis untuk berkarya. Percaya diri adalah modal utama untuk berani melangkah dan mengambil resiko agar mencapai sebuah pengakuan. Namun ternyata, banyak penulis muda yang melupakan bahwa kepercayaan diri dan eksistensi diri perlu di tunjang dengan kualitas. Mencapai kualitas unggul bagi penulis tentu bukan hal yang mudah. Namun untuk mengasahnya bukan juga hal yang teramat sulit. Belajar meningkatkan kualitas hingga meraih kualitas yang baik harus di ikhtiyarkan.

Menulis yang baik harus memerhatikan tema, isi tulisan dan materi yang akan disampaikan. Tak jarang, para penulis hebat nan tersohor melakukan berbagai macam riset untuk menguatkan nilai-nilai dalam tema tulisannya, demi menghidupkan tulisannya di tengah-tengah pembaca. Tulisan yang yang seperti ini mudah diterima oleh pembaca dan memiliki kesan mendalam di ingatan pembaca. Mereka menggali berbagai macam literatur yang memadai yang menjadikan tulisannya logis dan realistis. Usaha ini juga menjadi refleksi siapa dan bagaimana diri serta usaha penulis, tidak menjadi seorang penulis yang tidak bisa mempertanggungjawabkan tulisannya.

Kemudian dalam tata bahasa dan tata penulisan, harus juga memperhatikan misalnya, penulisan kalimat langsung, kata penghubung, kutipan, atau bahasa asing, harus ditulis dengan cara yang benar, agar tak hanya nikmat dibaca, tapi juga menjadi pembelajaran bagi pembaca yang nantinya ingin juga mengikuti jejak kita. Menulis tidak boleh asal memasukkan kata yang 'indah', namun juga logis dan serangkai dengan kata-kata yang lainnya. Hingga kata-kata tersebut mampu menjadi kalimat yang utuh dan bermakna. Bukan yang ambigu, atau bahkan tidak bermakna sama sekali. Dari tulisan yang ilmiah bin serius, sampai tulisan ringan berupa catatan atau humor sekalipun, hendaknya ditulis dengan benar. Penulis-penulis senior sangat memperhatikan hal-hal kecil ini, hingga tak jarang menumpuk beragam kamus hanya agar tulisannya baik dan benar.

Menulis tidak selesai dengan merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat saja, ada proses editing, diskusi, pembandingan, dan beberapa kali pengoreksian oleh orang lain untuk meletakkan eksistensi karya kita di dunia tulis menulis. Masih banyak penulis yang hanya berorientasi pada tulisannya, tidak menimbang diri dengan penulis-penulis lain yang lebih senior. Pada faktanya memang, setiap pembaca memiliki penilaian berbeda pada setiap tulisan. masing-masing penulis memiliki tempat sendiri di hati pembacanya. Tidak perlu membandingkan antara satu penulis dengan penulis yang lain. Penulis ilmiah, berbeda dengan novelis maupun cerpenis. Penulis dengan gaya bahasa serius, maupun dengan bahasa yang santai memiliki tempatnya masing-masing di hati pembacanya. Namun ada satu kesamaan yang tidak boleh dibedakan, bahwa tulisan haruslah baik dan benar. Tulisan berisi kebenaran dan disampaikan dengan kondisi yang baik.

Menulislah yang membuat orang lain senang membacanya berulang-ulang, hingga dijadikan referensi, dijadikan contoh, dijadikan sebagai literature, dijadikan topik pembicaraan sana-sini, diceritakan ke banyak orang, dikutip oleh dia dan dia. Buatlah tulisan yang mampu melekat di hati dan ingatan pembaca, serta mampu menjadi sejarah yang akan terus dibaca berulang-ulang. Tulisan mampu menjadi karya yang abadi, baik secara fisik maupun isi. Meskipun ditulis oleh penulis muda.

Penulis harus seperti seorang fotografer, harus mampu mengambil angle yang unik bagi tulisannya agar orang lain merasa menemukan hal baru yang belum pernah dan yang tidak biasa ia baca. Sekalipun dengan topik yang sama, harus ada frame baru yang membuatnya berbeda. Sehingga sejarah akan tercatat dan orang lain akan meminjamnya sebagai pembaharuan, bukan plagiasi.

Kemudian yang tidak boleh dilupakan, marilah kita mengapresiasi tulisan dan karya-karya orang lain. Kita belajar mengungkap rasa suka atau tidak suka, agar kitapun bisa peka pada tulisan-tulisan yang baik, yang layak, dan yang disukai pembaca maupun yang tidak. Jangan hanya memaksakan diri untuk menulis dan menginginkan orang lain membacanya. Tapi buatlah bagaimana orang lain merasa senang dengan menulis dan sama-sama membangun kejayaan peradaban lewat tulisan, dengan mengapresiasi karya-karya mereka. Kemudian marilah kita menulis, merefleksikan diri dan menjadikannya tulisan yang bersejarah. Sesederhana apapun sejarah itu, minimal berkesan di hati kita sendiri.

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
Marilah kita bermanfaat melalui tulisan.

Terinspirasi oleh semangat juang aktivis LDK MKMI UTM..

Selasa, 03 Mei 2011

Usiamu..

Pernahkah dalam Isya'mu, di penghujung harimu untuk kemudian menutupnya dengan terlelap, kau minta pada Allah agar kau di beri kesempatan untuk menemui hari esok? Jawablah dalam hatimu.
Pernahkan dalam setiap desahan nafasmu, selalu terhembus dzikir? tanpa terputus? Lalu dalam doamu kau mintakan usia sedetik, dua detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari bahkan bertahun-tahun ke depan?
Pasti jawabnya tidak.

Tapi, tanpa kau minta, Allah memberinya kan? Tanpa kau minta, Allah menluangkan kesempatan bagimu, dalam setiap detik-detik kehidupanmu, dan hanya dua saja hal yang diperintahnya, menjadi khalifah di bumi dan menjadi hamba yang beribadah kepadaNya. Ingatlah kau tak pernah minta, dan Allah memberinya.
Kesempatan itu hanya untuk satu, bukan untuk disiakan, namun untuk terus memperbaiki diri, hingga surga layak menantimu. Allah memberimu kesempatan untuk meperbaharui dirimu dengan kebaikan yang melayakkanmu mendapati surga, menjadi lebih baik dari masa lalumu.

Dan selama usiamu, terus diberi kesempatan itu, kau gunakan untuk apa?
padahal kau tahu pada hari hisab nanti, manusia tidak akan bergerak dari mahkamah Allah swt sehingga dikemukakan kepadanya lima pertanyaan: usiamu digunakan untuk apa, masa mudamu untuk apa kamu pergunakan, hartamu dari sumber mana kamu mendapatkannya, hartamu itu dimanakah kamu belanjakan, ilmumu apakah kamu telah mengamalkannya..

Senin, 02 Mei 2011

Aku - setengah fiksi


Aku. Begitu tiga huruf itu bertengger di dalam wordpad di hadapanku. Sudah berjam-jam lamanya aku masih menimbang-nimbang kata selanjutnya. Keringat sudah membasahi punggungku berjam-jam lalu. Desiran kipas angin di kamarku, seakan menjadi soundtrack suram di kepalaku. Kenapa otakku jadi serasa kaku? Apa ini benar-benar pekerjaan konyol? Duduk manis di depan komputerku dengan sebuah niatan tulus tapi rumit, "menulis".

Ide konyol ini semata-mata terinspirasi dari tulisan seorang sahabat dunia maya, tentang pengalaman luar biasa dalam catatannya, bertemu seorang penulis cantik yang juga adalah idolaku, menggelitikku untuk benar-benar going real menjadi penulis. Hehehe, sebenarnya aku tertawa dalam hati. “Sok banget udah nyebut diri penulis, padahal baru tiga huruf yang bisa diketik”. Tapi hati di sebelahnya berbisik juga, "tiga huruf, tulisan juga kan, tak apalah", hiburnya padaku. Dalam catatan itu, ini kata-kata paling menyindir egoku;  Dari Hasan Al Banna, “pemuda Islam harus seimbang antara menulis dengan membacanya.” Hanya gila membaca saja, itu mah ga’ keren. Aku merasa kekerenanku hilang seketika. Kalimat ini ditulis oleh seorang pejuang Islam tersohor, jadi benar-benar menghilangkan kekerenanku. Oh, aku jadi tak keren lagi. what's wrong?

Aku memang sering sekali bergaul dengan komputerku. Elektronik satu ini membuatku sangat menikmati kehidupan. Tapi tentu saja, yang kulakukan bukanlah pekerjaan yang biasa dilakukan Asma Nadia atau Habbiburrahman el Shirazy, menapaki karir mereka sebagai penulis. Komputerku menyimpan puluhangame yang biasa kumainkan berjam-jam. Pergaulanku dengannya adalah menyelesaikan misi-misi dari setiap level game yang sedang aku mainkan. Pekerjaan sambilanku di sela-sela mengejar musuh atau menunggu kue yang kumasak di game online-ku matang, aku hanyalah pemburu tulisan. Berbagai macam threat, berita, catatan, informasi, dan beragam tulisan lainnya menjadi konsumsiku, dari yang berjenis humor, ilmiah, hingga sastra. Berselancar di dunia maya benar-benar olahraga yang mengasyikkkan. Namun lagi-lagi kukatakan, aku penikmat, bukan produsen tulisan-tulisan itu.

Kali ini aku agak kesal. Kenapa juga harus kata "aku" yang bisa kutulis. Ini benar-benar hal paling narsis dalam hidupku. kata-kata pertama yang tercetus begitu saja, kenapa cuma tiga huruf, dan itu hanyalah sebuah bagian keangkuhan kurasa, betapa tokoh tulisan di dunia ini yang pantas diceritakan hanyalah aku. Ah, ini tidak benar, batinku lirih.
Lalu aku harus menulis apa?

Sebelum benar-benar meniatkan menulis, aku berdiskusi dulu dengan sahabat karibku. Ia adalah sahabat setia yang seringkali lebih mengenal diriku daripada aku sendiri. “bagaimana menurutmu jika aku menulis?” tanyaku ragu. Dalam hati aku takut ia menertawakanku. Dengan mata yang tiba-tiba berbinar, ia menepuk bahuku, “benarkah? Sudah kubilang kan sejak dulu, kamu punya kemampuan untuk menulis. Cobalah dengan cerpen yang sederhana. Aku yakin akan menjadi tulisan perdanamu yang bagus. Kamu punya bakat”

Kalimatnya begitu terngiang-ngiang di kepalaku. Mana sih bakat itu? Kuketok-ketok kepalaku dengan jari tengahku yang terlipat. Jangan-jangan kalimat itu hanyalah cibiran sahabatku itu. Aku terlalu percaya diri sepertinya. Sialnya, sudah sekian jam aku duduk mencari – cari kalimat selanjutnya. Apakah aku akan bangkit dengan sia-sia? Tanpa menuliskan satu kalimatpun? Bukankah aku sosok yang pantang menyerah? Kukejar level demi level dalam game-ku. Apakah menulis akan membuatku pernah menyerah, untuk pertama kalinya? Baru kurasakan sekarang, ternyata menulis memang bukan pekerjaan mudah.

Sebagai pembaca yang aktif, seringkali mudah bagiku untuk berkomentar sana sini tentang tulisan ini dan itu. Sekarang aku tahu, betapa menulis itu membutuhkan tenaga luar biasa. Butuh banyak konsekuensi, kerja keras dan pengorbanan. Ketika tulisan itu sudah mengalir misalnya, masih perlu ada tahap koreksi, apakah tulisan ini layak tampil atau tidak. Sayangnya aku benar-benar tidak bisa bersabar menanti hidayah untuk menulis. Seorang gamers  sepertiku hanya bisa bersabar dalam urusan menaikkan level dan menyelesaikan misi. Tapi bukan dalam pekerjaan satu ini, menulis.

Baiknya, kuucapkan selamat saja bagi para penulis yang telah berhasil menelurkan karya. Kalian memang orang-orang luar biasa yang sangat sabar menaklukkan pekerjaan ini. Benar-benar tak mudah untuk membuat tulisan, aku telah membuktikannya. Kalian orang-orang hebat. Biarkan saja aku menjadi penikmat tulisan semata, tak lagi menjadi komentator. Aku agak kecewa. Namun aku tetap tak berniat melanjutkan pekerjaan berat ini.

Tak lama, akhirnya, kutemukan juga kalimat selanjutnya untuk tulisanku. Aku, bukan penulis.

Surabaya 2008, diselesaikan pada 28 November 2011 di Mojokerto

senja

senjaku lelah menghalau kabut, di kaki langit yang sunyi
kaburkan pandangku di akhir tenggelamnya

kabut, mengawan merintikkan tetes demi tetes kesedihan,, hilangkan cantiknya senjaku
hilangkan cantiknya tak tertatap mataku..

dan akulah hujan itu,
merisaukan senja,, membuatnya tak jingga di ufuk sana
melelahkannya memancarkan rona..
berkabut, lalu aku turun menutupinya

maafkan hujan wahai senja.. kurisaukanmu.. tapi ku memasungmu,
ku takut cahyamu menyinari selainku..


Juli 2010

Sabtu, 30 April 2011

media cetak

Pengantar
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.

Manajemen Media Cetak
Kata manajemen berasal dari management (Inggris) yang diadobsi dari kata manaj (iare) (Italia) yang bermuara pada mamis (Latin) dengan makna tangan. Jadi manajemen dalam arti asalnya adalah memimpin, membimbing atau mengatur (Djuroto, 2000). Secara sederhana manajemen dimaknai sebagai getting result through the work of others. Sementara definisi yang sedikit lebih lengkap dengan mengutip pandangan pakar manajemen Hendry Fayol: “management is the direction of enterprise throught the planning, coordinating and controlling of its human materials resources toward the attainment of pre determined objectives”.Dengan kata lain manajemen mengandung dua pengertian
● Pertama, POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
● Kedua, 6 M (Men, Materials, Machine, Methods, Money, Market) (Soehoet,2002).

Manajemen merupakan konsekuensi logis dari kepercayaan (responsibility) dan kenyataan (reality) yang harus dibuktikan melalui struktur organisasi media cetak yang bersifat formal dan kecakapan yang bersifat fungsional (authority). Diantaranya bidang: redaksi, iklan, pemasaran dll.Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya: peluang usaha, kemampuan SDM, kapital, SWOT dengan kompetitor, keinginan pembaca, perubahan sosial berupa teknologi, ekonomi, politik, budaya dll. Langkah yang perlu dilakukan antara lain: perhatian terhadap lingkungan eksternal, menjual ruang untuk iklan, efesiensi di semua unit usaha, suntikan modal dll. Semua pendapatan diperoleh dari penjualan produk media cetak (eceran, langganan, barter dll), penjualan kolom (iklan baris, duka cita dll) dan penjualan jasa kegiatan off print seperti seminar, pameran dll untuk membentuk image posistif (Djuroto, 2000).

Dengan mengutip pakar komunikasi Kanada Marshall McLuhan yang mengatakan the press is the extention of man, Jakob Oetama mengatakan pers merupakan perpanjangan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap informasi, hiburan, pendidikan dan keingintahuan mengenai peristiwa yang terjadi di sekitarnya (Oetama, 1987). Inilah yang dimanifestasikannya dalam surat kabar KOMPAS yang didirikannya bersama dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965 dengan struktur yang kurang lebih sebagai berikut: Pertama, owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top manager. Terkadang owner identik dengan top manajer. Kedua, top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Ketiga, pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. Keempat, wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas pemimpin umum atau menggantikannya dalam operasionalisasi harian. Kelima, bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. Keenam, bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. Ketujuh, bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi.

Zona Pasar Media Cetak
Pertama, CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. Kedua, PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita dan pelayanan iklannya. Ketiga, RTZ (Retail Trading Zone): wilayah di luar CZ tempat media cetak itu diperjualbelikan. Keempat, NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak itu sebagai pasarnya.

Format Media Cetak

1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia, Republika dll.
2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.
3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.
4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll.

Struktur Organisasi Media Cetak
Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department). Bagian Redaksi dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Bagian Pemasaran dipimpin olen Manajer Pemasaran atau Pemimpin Usaha. Di atas keduanya adalah Pemimpin Umum (General Manager). Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi.
Bagian Redaksi tugasnya meliput, menyusun, menulis, atau menyajikan informasi berupa berita, opini, atau feature. Orang-orangnya disebut wartawan. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi.
Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis. Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi. Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang-orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.

Tugas
1. Pemimpin Umum (General Manager)
Ia bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Ia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.

2. Pemimpin Redaksi
Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di suratkabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan yang perintah atau kebijakannya harus dipatuhi bawahannya. Kewenangan itu dimiliki katena ia harus bertanggung jawab jika pemberitaan medianya ?digugat? pihak lain. Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi (Desk opinion). Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun ? dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi? yang mampu menulisnya dengan menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.

3. Dewan Redaksi
Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.

4. Redaktur Pelaksana
Di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred/Wapemred, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.

5. Redaktur
Redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb.

Redaktur Pracetak
Setingkat dengan Redaktur/Editor adalah Redaktur Pracetak atau Redaktur Artistik. Ia bertanggung jawab menangani? Naskah Siap Cetak? (All In Hand/All Up) dari para redaktur, yaitu semua naskah berita yang sudah diturunkan ke percetakan dan sudah diset bersih, desain cover dan perwajahan (tataletak, lay out, artistik), dan hal-ihwal sebelum koran dicetak. Bagian lain di yang berada di bawah koordinasi Redaktur Pracetak adalah Setter atau juruketik naskah. Ia bertugas mengetik naskah yang akan dimuat. Ada pula Korektor yang bertugas mengoreksi (membetulkan) kesalahan ketik pada naskah yang siap cetak.
• Reporter
Di bawah para editor adalah para Reporter. Mereka merupakan? prajurit? di bagian redaksi. Mencari berita lalu membuat atau menyusunnya, merupakan tugas pokoknya.
• Fotografer
Fotografer (wartawan foto atau juru potret) tugasnya mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang bernilai berita atau untuk melengkapi tulisan berita yang dibuat wartawan tulis. Ia merupakan mitra kerja yang setaraf dengan wartawan tulisan (reporter). Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalistik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik (Journalistic Photography, Photographic Communications). Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan (to inform), meyakinkan (to persuade), dan menghibur (to entertain).
• Koresponden
Selain reporter, media massa biasanya memiliki pula Koresponden (correspondent) atau wartawan daerah, yaitu wartawan yang ditempatkan di negara lain atau di kota lain (daerah), di luar wilayah di mana media massanya berpusat.

Kontributor
Kontributur atau penyumbang naskah/tulisan secara struktural tidak tercantum dalam struktur organisasi redaksi. Ia terlibat di bagian redaksi secara fungsional. Termasuk kontributor adalah para penulis artikel, kolomnis, dan karikaturis. Para sastrawan juga menjadi kontributor ketika mereka mengirimkan karya sastranya (puisi, cerpen, esei) ke sebuah media massa. Wartawan Lepas (Freelance Journalist) juga termasuk kontributor. Wartawan Lepas adalah wartawan yang tidak terikat pada media massa tertentu, sehingga bebas mengirimkan berita untuk dimuat di media mana saja, dan menerima honorarium atas tulisannya yang dimuat. Termasuk kontributor adalah Wartawan Pembantu (Stringer). Ia bekerja untuk sebuah perusahaan pers, namun tidak menjadi karyawan tetap perusahaan tersebut. Ia menerima honorarium atas tulisan yang dikirim atau dimuat.
Bidang Pendukung Redaksi
Bagian yang tak kalah pentingnya untuk membantu kelancaran kerja redaksi adalah bagian Perpustakaan dan Dokumentasi serta bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Litbang memantau perkembangan sebuah penerbitan, survei pembaca, dan memberikan masukan-masukan bagi pengembangan redaksional dan bagian lainnya, termasuk pembinaan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Bagian Usaha (Business Department)
Bertugas menyebarluaskan media massa, yakni melakukan pemasaran (marketing) atau penjualan (saling) media massa. Bagian ini merupakan sisi komersial meliputi sirkulasi/distribusi, iklan, dan promosi. Biasanya, bagian pemasaran dipimpin oleh seorang. Pemimpin Perusahaan atau seorang Manajer Pemasaran (Marketing Manager) yang membawahkan Manajer Sirkulasi, Manajer Iklan, dan Manajer Promosi.

Proses Media Cetak
Pertama, kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.

Contoh LayOut Media Cetak

Majalah
Surat Kabar
Brosur

Pamflet

Baliho

Daftar Pustaka
http://tonz94.wordpress.com/2009/05/02/manajemen-media-massa
http://stefanusakim.wordpress.com/2007/12/09/manajemen-keredaksian
http://komunikasi-kita.blog.friendster.com/2007/02/manajemen-media-media-cetak-dan-elektronik