Kamis, 29 Desember 2011

Semaian cinta Az- Zahra



Lagu Good bye days gubahan penyanyi cantik negeri sakura, Yui, mengalun lembut  di earphone yang kudengar. Lagu ini benar-benar salam perpisahan yang syahdu. Di balik jendela kamar kontrakanku, hujan yang tadinya telah reda kembali menyerbu deras tanah di pulau garam ini. Menambah syahdu suasana senja, yang dingin dan sederhana. Sesederhana rumah kontrakan dua kamar, dengan dua kamar mandi, satu ruang tamu dan satu ruang tengah ini. Sesederhana hidup keluarga kecil ini, 10 pasukan pencari ilmu yang luar biasa, yang begitu leluasa belajar di rumah kecil ini. Sesederhana hujan yang menyelimuti rumah ini dengan kesejukan.

Siapakah yang begitu menyukai hujan? Aku, dan seorang saudara kamar ini, pemilik akun facebook bernama Istana Hujan Cloudeve. Namun tak kan ada yang mencintainya lebih dari aku. Jika hujan datang, maka sebuah pesta sedang dimulai. Doa-doa terpanjat mengiringi rintik-rintik yang jatuh ke tanah. Doa paling mendalam sore ini, sore yang tak sengaja kuhabiskan di kontrakanku. Pagi tadi aku telat hampir dua jam ke kantor magangku, karena suatu kejadian mendesak atas kelalaianku hari ini. Maka kuputuskan untuk pulang ke rumah hijauku yang teduh. Aku ingin tidur, menikmati bagaimana kipas angin baling-baling yang selalu setia mendinginkan hawa di kamarku. Doa itu, adalah doa untuk kebahagiaan rumah ini, doa untuk keberkahan dan keselamatan bagi penghuni rumah ini. Doa untuk saling menguatkan, agar kelak, ketika aku harus benar-benar tinggalkan rumah ini, masih ada energi luar biasa untuk menjadi sebaik ketika aku bersaudara dengan anak-anak di rumah ini.

Sedang asyik menulis, beranjak maghrib, ketika adzan akan segera berkumandang, suara panggilan datang, “ayok maem Yul,” suara sang pemilik Istana hujan. Sesorean tadi dia mendedikasikan dirinya di dapur, memasak sayur yang telah kering. Sayang, katanya. Tapi sebenarnya tak sesederhana itu. Ia memasak dengan volume yang lebih dari yang sebenarnya dia dan adiknya butuhkan untuk makan malam mereka. Ia memasak untuk kami semua, delapan penghuni Az Zahra yang memang doyanmakan. Apalagi jika sudah melingkar bersama, sambil sesekali bersenda tawa, makanan demi makanan akan terus maju mengisi piring-piring yang hampir kosong. Sampai kami benar-benar puas menyelesaikan pembicaraan tentang persaudaraan senja itu. Sebenarnya kami bersepuluh. Senior cupu pecinta baking life sedang tak ada. Ia sedang menyelesaikan hari-hari magangnya. Lalu seorang anak nakal bernama Frida, yang telah menjahili saudaranya, memangkas pendek poni rambut saudara sekamarnya, juga belum kembali ke peraduan.  (mewakili dek Frida, maafkan kenakalannya ya dek Ven)

Suara Eva, ibu ketua kontrakan datang. “hm, ayok berbuka. Senangnya tadi dapat sms dari ibu koki yang udah siapin makanan.” “iya ini dek aku udah masak,” sahut si koki. Sedetik kemudian aku tulis percakapan penuh cinta itu. Percakapan singkat yang sarat makna persaudaraan. Siapa yang tak iri dengan itu? Siapa yang tak ingin bersaudara seperti itu?
“mbak Yuli kemana?” suara itu melanjutkan. Aku selalu tahu, betapa saudaraku, selalu menyenangkan hatiku  dengan kerinduannya padaku. Bukannya aku GR, tapi benar-benar, jika aku sesekali mampir ke kontrakan untuk sekedar me-liqo’i mereka, wajah-wajah itu menyimpan ribuan sayang untukku. Padahal kusadari betul, rasa sayangku tak sebesar itu pada mereka. Adanya hanya omelan-omelan ibu kepala rumah tangga yang sok tua mengatur ini itu di kontrakan. Tapi masa itu sudah lalu, aku sudah pensiun. Maafkan aku saudara-saudaraku, atas omelan-omelan itu.
Jadilah sore ini, buka puasa bersama mewarnai kontrakan ini dengan menu yang tak seberapa, sayur sop dengan tempe berselimut tepung buatan sang koki, bandeng presto khas Gresik yang selalu berasal dari Rizka, mahasiswa PGSD yang rumahnya justru di Lamongan -yang ini memang agak aneh, bukannya dek Ayu yang asli Gresik yang membawanya (ini maksudnya nyindir sekaligus nodong)- ditambah mentimun cantik hasil irisan dek Yunita (dikau memang cantik secantik timun itu, dan memang ngangenin karena sudah jadi cerewet). Menu yang begitu mewah dan mengenyangkan kami. Menjadi teringat kisah, ketika Rosulullah makan bersama sahabat-sahabatnya, meski makanan yang secara material jumlahnya sedikit, bisa menjadi cukup, mengenyangkan, dan bahkan berlebih. Memang tak pantas lingkaran ini disamakan dengan makan bersama Rosulullah yang mulia. Tapi itulah yang terasa, kenyang, senang, dan merasa menang hari ini, semoga berkah Allah, menyertai makanan-makanan kami.
Aku makan di sebelah Mirza yang pendiam. Tapi diam-diam, aku tahu makannya paling banyak. Hihihi.

“wah, sudah lama ya gak makan sama-sama kayak gini,” kataku di sela perjalanan dinner ini. “waahh,, mbak Yuli,” demikianlah koor jawaban membuatku tersenyum juga, karena kata mereka kemudian, mereka selalu melewatkan waktu makan dengan cara seperti ini, sayangnya memang ketika aku tidak ada.
Hal pentingnya adalah, sore ini ditutup dengan sholat berjamaah, tadarus, taujih, dan berfoto. Yah, berfoto termasuk dalam draft agenda penting pasukan narsis disini. Dengan beberapa upaya, akhirnya HP nokia X2 milik ibu ketua bisa mengabadikan kenarsisan az Zahra dengan menggunakan Timer.Termasuk sang fotografer amatir bisa ikut nampang yah.
Namun yang lebih penting dari ini, ketika kami saling mengingatkan tentang kehidupan. Tentang bagaimana kami memperlakukan masalah, ketika dimana kami meletakkan masalah. Berbagi rasa, berbagi cerita, di lingkaran kami yang selanjutnya. Evaluasi sederhana, yang singkat tentang kecintaan kami pada rumah kami. Rumah yang bukan kumpulan ibu-ibu PKK, namun kumpulan orang-orang hebat penggerak LBB Az Zahra. Motivasi dalam turut serta mencerdaskan bangsa (ini pesan UUD lho ya).

Pembicaraan penting selanjutnya, yang kemudian memberi ide luar biasa; ada program Pakai Rok Seharian, di hari Senin dan Kamis.

Ini tulisan tentang apa ya? Ini bukan fiksi.Tulisan ini tentang bagaimana aku, mengabadikan kenangan di rumah ini untuk kelak kubawa di masa depan, sebagai kenangan yang menguatkanku, bahwa aku pernah, memiliki saudara-saudara yang luar biasa ini, yang penuh cinta, yang saling pengertian, yang saling menguatkan. Sudah hampir habis masaku untuk menjadi penghuni rumah ini, menikmati kenangan demi kenangan di rumah ini. Bahkan sekarang, jarang aku luangkan waktu untuk berada disini mendengar suara-suara speaker masjid, suara-suara geluduk, suara tawa nenek lampir, dan suara-suara lainnya, yang begitu terngiang-ngiang ketika aku tiada disini.

Lagu perpisahan yang syahdu kuputar lagi,
Dakara ima ai ni yuku, sou kimetanda, Poketto no kono kyoku wo kimi ni kikasetai, Sotto boryumo wo agete tashikamete mitayo..
OH GOODBYE DAYS ima,Kawari ki ga suru, Kinou made ni SO LONG..
_Ada alasannya mengapa sekarang aku memutuskan untuk menemuimu, Aku ingin memperdengarkan padamu sepotong lagu dalam sakuku ini, Sambil pelan-pelan menaikkan suaranya, untuk memastikan semua baik-baik saja..
Sekarang, hari perpisahan, Aku tahu perasaan ini akan berubah, Sampai kemarin (hari-hari yang kami lalui terasa) begitu lama.._

Belum saatnya aku pergi, waktunya belum datang, maka aku masih disini saudaraku, untuk hidup dan tinggal beberapa saat lagi dengan kalian. Tiada yang lebih menyenangkan, dan lebih kurindukan. Semoga waktu tak segera mengambil kesempatan ini. Dan semoga kalian masih bisa bersabar denganku.

 Tulisan ini ditutup dengan memakan gorengan dan jemblem hasil sumbangan dek Rizka dan dek Ayu. Belum selesai, masih ada kalimat terakhir mereka yang begini;

Rizka: “uwes mbak, maemen, cek sampean tambah lemu” (udah mbak, makan saja, biar mbak tambah gemuk)
Ayu  : “mbak Yuli. loh nakndi wonge? Iki loh mbak tak ke’i jemblem, cek sampean podo mbek aku(mbak Yuli, loh kemana orangnya? Ini loh mbak aku kasih jemblem, biar sama denganku).
Aku  : “iya, biar sama-sama jadi jemblem kayak makanannya”

Hadeh, gawats…

Az  Zahra-Telang, Bangkalan
28 November 2011


Lagu Bidadari Kecil

di tulis oleh jiwa yang damai
Kutengok hati yang bergeming,
dalam nada-nada bisu
yang lantunkan bait demi bait perasaan,
dengan diam yang sunyi..
mencandai sepi dengan lirik-lirik romantika,
menyuarakan hati yang bersandar di keteduhan cinta,,

Aku jatuh cinta,
untuk sekali lagi..

Akulah bidadari itu,
yang lantunkan melodi-melodi rindu,
untuk kutitipkan lewat angin,
agar terhembus di padang tandus jiwamu..
Akulah bidadari itu,
yang ciptakan baris-baris nada,
dengan not-not cinta,
untuk kutitipkan pada pagi,
agar mengembun di lembah sunyi hatimu..
Akulah bidadari kecil,
yang diturunkan dari langit,
untuk menggubah lagu cinta, dan sayang
untuk menemani waktumu..

ayah, ibu..
lagu cintaku terus terlantun sejak tangis menjadi liriknya..

puisi picisan masa SMA,

8 Maret 2008

Rabu, 28 Desember 2011

Aku

mungkin lumpuh, mungkin tuli, tapi tak buta..
mungkin kesal, mungkin marah, tapi bukan benci..
mungkin sedih, mungkin terluka, tapi tidak meratapi..
mungkin cemburu, tanpa tapi, karena sayang, karena cinta..

gagal bukan salah,
gagal bukan tak berhasil,
gagal adalah tak punya daya untuk bangkit

kehilangan yg dulu, bukan berarti tak bisa ditemukan sekarang..
aku khilangan teman, sahabat, saudara,
dan,
aku kehilanganmu,
berharap kembali tapi seperti tak ada jalan,
buntu

semakin dirimu nyenyak dalam bias fatamorgana padang pasir,
setelah kau reguk, tercampakkan pahitnya
atau sebaliknya
mereguk pahit dan mencampakkan setelahnya,
ternyata maknanya sama saja,

pasrahkan kehilangan, memang tak bisa kembali,
kecuali aku ingin



15 Nov 2010

Menulis, sebuah refleksi diri untuk mencipta sejarah

Menulis adalah suatu bentuk eksistensi peradaban yang amat sangat besar. Tulisan menjadi realisasi dan implementasi dari pengetahuan yang dimiliki oleh suatu peradaban. Tulisan mampu mengabarkan kejayaan dan kemajuan sebuah umat sekaligus menjadi motivasi besar perubahan peradaban menuju arah yang lebih baik. Tulisan meninggalkan sejarah yang selalu bisa dikaji kembali untuk memulai peradaban yang lebih baru lagi. Kejayaan peradaban dan pengetahuan Eropa yang kini telah jauh meninggalkan Islam, sebelum dulunya pernah dipegang oleh Islam, lebih banyak disebabkan oleh budaya membaca dan menulis yang telah luntur dari kaum muslimin.

Menulis menjadi suatu hal yang gampang-gampang susah. Ingat, bahwa ada dua gampang dan satu susah. Menjadi seorang penulis memang bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Namun pasti, menulis bisa dimulai dengan belajar dan membaca. Penulis yang baik dimulai dengan menjadi pembaca. Seorang penulis, hendaklah membaca baik teks maupun kentekstual untuk kemudian bisa mencurahkan hasil bacaannya menjadi tulisan dan bacaan baru yang realistis dan logis, sekalipun yang berupa tulisan fiksi.

Tulisan merupakan refleksi dari karakter dan watak penulisnya. Dari gaya kepenulisan dan isi ataupun materi tulisannya dapat dilihat bagaimana kepribadian bahkan lingkungan tinggal penulisnya. Tulisan-tulisan tentu memiliki tingkat kualitas, ada yang high, medium, bahkan yang di bawah garis kelayakan. Pesannya, Jangan sampai tulisan kita terlihat konyol dan membuat orang lain tertawa. Jangan membuat orang lain mengernyitkan dahi, bukan karena penasaran dengan tulisan kita, tapi karena bingung setengah mati. Apalagi jika sampai membuat orang jengkel dan marah karena tulisan acak kadul kita.

Menulis catatan, seperti diary misalnya, bukan sekedar bagaimana kita menuliskan kisah dari perjalanan kita sebagai tulisan biasa -bahkan mungkin luar biasa (buruk)- yang ditumpahkan kemudian tidak layak sama sekali untuk di baca. Tulisan sesederhana apapun, harus mampu menjadi kenangan yang suatu saat ingin kita baca dan ingin kita nikmati, bahkan layak kita publikasikan dan kita bagi pada orang lain. Maka saat itulah tulisan kita bekerja.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushshilat: 33)
Menulis itu bukan hanya cukup dengan menyenangkan hati kita, memuaskan hasrat kita untuk mencurahkan uneg-uneg kita, tapi tujuan utamanya adalah untuk dibaca orang lain. Untuk memberi suatu manfaat bagi orang lain, baik sebagai hiburan, informasi, maupun pengetahuan. Menulis memiliki fungsi untuk menyeru pada kebaikan dan kemaslahatan umat.

Percaya diri menjadi salah satu kunci yang harus dimiliki penulis untuk berkarya. Percaya diri adalah modal utama untuk berani melangkah dan mengambil resiko agar mencapai sebuah pengakuan. Namun ternyata, banyak penulis muda yang melupakan bahwa kepercayaan diri dan eksistensi diri perlu di tunjang dengan kualitas. Mencapai kualitas unggul bagi penulis tentu bukan hal yang mudah. Namun untuk mengasahnya bukan juga hal yang teramat sulit. Belajar meningkatkan kualitas hingga meraih kualitas yang baik harus di ikhtiyarkan.

Menulis yang baik harus memerhatikan tema, isi tulisan dan materi yang akan disampaikan. Tak jarang, para penulis hebat nan tersohor melakukan berbagai macam riset untuk menguatkan nilai-nilai dalam tema tulisannya, demi menghidupkan tulisannya di tengah-tengah pembaca. Tulisan yang yang seperti ini mudah diterima oleh pembaca dan memiliki kesan mendalam di ingatan pembaca. Mereka menggali berbagai macam literatur yang memadai yang menjadikan tulisannya logis dan realistis. Usaha ini juga menjadi refleksi siapa dan bagaimana diri serta usaha penulis, tidak menjadi seorang penulis yang tidak bisa mempertanggungjawabkan tulisannya.

Kemudian dalam tata bahasa dan tata penulisan, harus juga memperhatikan misalnya, penulisan kalimat langsung, kata penghubung, kutipan, atau bahasa asing, harus ditulis dengan cara yang benar, agar tak hanya nikmat dibaca, tapi juga menjadi pembelajaran bagi pembaca yang nantinya ingin juga mengikuti jejak kita. Menulis tidak boleh asal memasukkan kata yang 'indah', namun juga logis dan serangkai dengan kata-kata yang lainnya. Hingga kata-kata tersebut mampu menjadi kalimat yang utuh dan bermakna. Bukan yang ambigu, atau bahkan tidak bermakna sama sekali. Dari tulisan yang ilmiah bin serius, sampai tulisan ringan berupa catatan atau humor sekalipun, hendaknya ditulis dengan benar. Penulis-penulis senior sangat memperhatikan hal-hal kecil ini, hingga tak jarang menumpuk beragam kamus hanya agar tulisannya baik dan benar.

Menulis tidak selesai dengan merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat saja, ada proses editing, diskusi, pembandingan, dan beberapa kali pengoreksian oleh orang lain untuk meletakkan eksistensi karya kita di dunia tulis menulis. Masih banyak penulis yang hanya berorientasi pada tulisannya, tidak menimbang diri dengan penulis-penulis lain yang lebih senior. Pada faktanya memang, setiap pembaca memiliki penilaian berbeda pada setiap tulisan. masing-masing penulis memiliki tempat sendiri di hati pembacanya. Tidak perlu membandingkan antara satu penulis dengan penulis yang lain. Penulis ilmiah, berbeda dengan novelis maupun cerpenis. Penulis dengan gaya bahasa serius, maupun dengan bahasa yang santai memiliki tempatnya masing-masing di hati pembacanya. Namun ada satu kesamaan yang tidak boleh dibedakan, bahwa tulisan haruslah baik dan benar. Tulisan berisi kebenaran dan disampaikan dengan kondisi yang baik.

Menulislah yang membuat orang lain senang membacanya berulang-ulang, hingga dijadikan referensi, dijadikan contoh, dijadikan sebagai literature, dijadikan topik pembicaraan sana-sini, diceritakan ke banyak orang, dikutip oleh dia dan dia. Buatlah tulisan yang mampu melekat di hati dan ingatan pembaca, serta mampu menjadi sejarah yang akan terus dibaca berulang-ulang. Tulisan mampu menjadi karya yang abadi, baik secara fisik maupun isi. Meskipun ditulis oleh penulis muda.

Penulis harus seperti seorang fotografer, harus mampu mengambil angle yang unik bagi tulisannya agar orang lain merasa menemukan hal baru yang belum pernah dan yang tidak biasa ia baca. Sekalipun dengan topik yang sama, harus ada frame baru yang membuatnya berbeda. Sehingga sejarah akan tercatat dan orang lain akan meminjamnya sebagai pembaharuan, bukan plagiasi.

Kemudian yang tidak boleh dilupakan, marilah kita mengapresiasi tulisan dan karya-karya orang lain. Kita belajar mengungkap rasa suka atau tidak suka, agar kitapun bisa peka pada tulisan-tulisan yang baik, yang layak, dan yang disukai pembaca maupun yang tidak. Jangan hanya memaksakan diri untuk menulis dan menginginkan orang lain membacanya. Tapi buatlah bagaimana orang lain merasa senang dengan menulis dan sama-sama membangun kejayaan peradaban lewat tulisan, dengan mengapresiasi karya-karya mereka. Kemudian marilah kita menulis, merefleksikan diri dan menjadikannya tulisan yang bersejarah. Sesederhana apapun sejarah itu, minimal berkesan di hati kita sendiri.

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
Marilah kita bermanfaat melalui tulisan.

Terinspirasi oleh semangat juang aktivis LDK MKMI UTM..

Selasa, 03 Mei 2011

Usiamu..

Pernahkah dalam Isya'mu, di penghujung harimu untuk kemudian menutupnya dengan terlelap, kau minta pada Allah agar kau di beri kesempatan untuk menemui hari esok? Jawablah dalam hatimu.
Pernahkan dalam setiap desahan nafasmu, selalu terhembus dzikir? tanpa terputus? Lalu dalam doamu kau mintakan usia sedetik, dua detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari bahkan bertahun-tahun ke depan?
Pasti jawabnya tidak.

Tapi, tanpa kau minta, Allah memberinya kan? Tanpa kau minta, Allah menluangkan kesempatan bagimu, dalam setiap detik-detik kehidupanmu, dan hanya dua saja hal yang diperintahnya, menjadi khalifah di bumi dan menjadi hamba yang beribadah kepadaNya. Ingatlah kau tak pernah minta, dan Allah memberinya.
Kesempatan itu hanya untuk satu, bukan untuk disiakan, namun untuk terus memperbaiki diri, hingga surga layak menantimu. Allah memberimu kesempatan untuk meperbaharui dirimu dengan kebaikan yang melayakkanmu mendapati surga, menjadi lebih baik dari masa lalumu.

Dan selama usiamu, terus diberi kesempatan itu, kau gunakan untuk apa?
padahal kau tahu pada hari hisab nanti, manusia tidak akan bergerak dari mahkamah Allah swt sehingga dikemukakan kepadanya lima pertanyaan: usiamu digunakan untuk apa, masa mudamu untuk apa kamu pergunakan, hartamu dari sumber mana kamu mendapatkannya, hartamu itu dimanakah kamu belanjakan, ilmumu apakah kamu telah mengamalkannya..

Senin, 02 Mei 2011

Aku - setengah fiksi


Aku. Begitu tiga huruf itu bertengger di dalam wordpad di hadapanku. Sudah berjam-jam lamanya aku masih menimbang-nimbang kata selanjutnya. Keringat sudah membasahi punggungku berjam-jam lalu. Desiran kipas angin di kamarku, seakan menjadi soundtrack suram di kepalaku. Kenapa otakku jadi serasa kaku? Apa ini benar-benar pekerjaan konyol? Duduk manis di depan komputerku dengan sebuah niatan tulus tapi rumit, "menulis".

Ide konyol ini semata-mata terinspirasi dari tulisan seorang sahabat dunia maya, tentang pengalaman luar biasa dalam catatannya, bertemu seorang penulis cantik yang juga adalah idolaku, menggelitikku untuk benar-benar going real menjadi penulis. Hehehe, sebenarnya aku tertawa dalam hati. “Sok banget udah nyebut diri penulis, padahal baru tiga huruf yang bisa diketik”. Tapi hati di sebelahnya berbisik juga, "tiga huruf, tulisan juga kan, tak apalah", hiburnya padaku. Dalam catatan itu, ini kata-kata paling menyindir egoku;  Dari Hasan Al Banna, “pemuda Islam harus seimbang antara menulis dengan membacanya.” Hanya gila membaca saja, itu mah ga’ keren. Aku merasa kekerenanku hilang seketika. Kalimat ini ditulis oleh seorang pejuang Islam tersohor, jadi benar-benar menghilangkan kekerenanku. Oh, aku jadi tak keren lagi. what's wrong?

Aku memang sering sekali bergaul dengan komputerku. Elektronik satu ini membuatku sangat menikmati kehidupan. Tapi tentu saja, yang kulakukan bukanlah pekerjaan yang biasa dilakukan Asma Nadia atau Habbiburrahman el Shirazy, menapaki karir mereka sebagai penulis. Komputerku menyimpan puluhangame yang biasa kumainkan berjam-jam. Pergaulanku dengannya adalah menyelesaikan misi-misi dari setiap level game yang sedang aku mainkan. Pekerjaan sambilanku di sela-sela mengejar musuh atau menunggu kue yang kumasak di game online-ku matang, aku hanyalah pemburu tulisan. Berbagai macam threat, berita, catatan, informasi, dan beragam tulisan lainnya menjadi konsumsiku, dari yang berjenis humor, ilmiah, hingga sastra. Berselancar di dunia maya benar-benar olahraga yang mengasyikkkan. Namun lagi-lagi kukatakan, aku penikmat, bukan produsen tulisan-tulisan itu.

Kali ini aku agak kesal. Kenapa juga harus kata "aku" yang bisa kutulis. Ini benar-benar hal paling narsis dalam hidupku. kata-kata pertama yang tercetus begitu saja, kenapa cuma tiga huruf, dan itu hanyalah sebuah bagian keangkuhan kurasa, betapa tokoh tulisan di dunia ini yang pantas diceritakan hanyalah aku. Ah, ini tidak benar, batinku lirih.
Lalu aku harus menulis apa?

Sebelum benar-benar meniatkan menulis, aku berdiskusi dulu dengan sahabat karibku. Ia adalah sahabat setia yang seringkali lebih mengenal diriku daripada aku sendiri. “bagaimana menurutmu jika aku menulis?” tanyaku ragu. Dalam hati aku takut ia menertawakanku. Dengan mata yang tiba-tiba berbinar, ia menepuk bahuku, “benarkah? Sudah kubilang kan sejak dulu, kamu punya kemampuan untuk menulis. Cobalah dengan cerpen yang sederhana. Aku yakin akan menjadi tulisan perdanamu yang bagus. Kamu punya bakat”

Kalimatnya begitu terngiang-ngiang di kepalaku. Mana sih bakat itu? Kuketok-ketok kepalaku dengan jari tengahku yang terlipat. Jangan-jangan kalimat itu hanyalah cibiran sahabatku itu. Aku terlalu percaya diri sepertinya. Sialnya, sudah sekian jam aku duduk mencari – cari kalimat selanjutnya. Apakah aku akan bangkit dengan sia-sia? Tanpa menuliskan satu kalimatpun? Bukankah aku sosok yang pantang menyerah? Kukejar level demi level dalam game-ku. Apakah menulis akan membuatku pernah menyerah, untuk pertama kalinya? Baru kurasakan sekarang, ternyata menulis memang bukan pekerjaan mudah.

Sebagai pembaca yang aktif, seringkali mudah bagiku untuk berkomentar sana sini tentang tulisan ini dan itu. Sekarang aku tahu, betapa menulis itu membutuhkan tenaga luar biasa. Butuh banyak konsekuensi, kerja keras dan pengorbanan. Ketika tulisan itu sudah mengalir misalnya, masih perlu ada tahap koreksi, apakah tulisan ini layak tampil atau tidak. Sayangnya aku benar-benar tidak bisa bersabar menanti hidayah untuk menulis. Seorang gamers  sepertiku hanya bisa bersabar dalam urusan menaikkan level dan menyelesaikan misi. Tapi bukan dalam pekerjaan satu ini, menulis.

Baiknya, kuucapkan selamat saja bagi para penulis yang telah berhasil menelurkan karya. Kalian memang orang-orang luar biasa yang sangat sabar menaklukkan pekerjaan ini. Benar-benar tak mudah untuk membuat tulisan, aku telah membuktikannya. Kalian orang-orang hebat. Biarkan saja aku menjadi penikmat tulisan semata, tak lagi menjadi komentator. Aku agak kecewa. Namun aku tetap tak berniat melanjutkan pekerjaan berat ini.

Tak lama, akhirnya, kutemukan juga kalimat selanjutnya untuk tulisanku. Aku, bukan penulis.

Surabaya 2008, diselesaikan pada 28 November 2011 di Mojokerto

senja

senjaku lelah menghalau kabut, di kaki langit yang sunyi
kaburkan pandangku di akhir tenggelamnya

kabut, mengawan merintikkan tetes demi tetes kesedihan,, hilangkan cantiknya senjaku
hilangkan cantiknya tak tertatap mataku..

dan akulah hujan itu,
merisaukan senja,, membuatnya tak jingga di ufuk sana
melelahkannya memancarkan rona..
berkabut, lalu aku turun menutupinya

maafkan hujan wahai senja.. kurisaukanmu.. tapi ku memasungmu,
ku takut cahyamu menyinari selainku..


Juli 2010