Minggu, 01 Januari 2012

MENDENGARKAN DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI


Mendengarkan merupakan aktivitas komunikasi yang sangat penting karena sangat mempengaruhi berlangsungnya komunikasi. Untuk mengukur pentingnya mendengarkan terlihat dari tujuan mendengarkan dan manfaat yang dapat diproleh dari mendengarkan. Mendengarkan yang efektif adalah yang menerima pesan secara utuh dan kemudian meberikan feedback yang sesuai dengan pesan yang disampaikan. Untuk menjadi pendengar yang baik, perlu adnya langkah – langkah berikut.

Proses Mendengarkan
1.      Menerima
Mendengarkan diawali dengan menerima pesan dari pengirim pesan (komunikator). pesan tersebut bisa verbal, maupun nonverbal yang terdiri dari bahasa  isyarat, ekspresi wajah, dan keragaman dalam intonasi. Di bagian ini, kita tidak hanya mencatat pesan baik verbal maupun nonverbal yang disampaikan oleh komunikator, tetapi juga hal – hal yang berhubungan dengan komunikator, misalnya latar belakang dan karakter komunikator. Dalam menerima pesan diberlukan adanya:
a.       Perhatian penuh kepada pengirim pesan, hal apa saja yang disampaikan, maupun yang tidak disampaikan.
b.      Lingkungan yang memadai atau sesuai.
c.       Perhatian penuh kepada pengirim pesan sehingga apa yang akan kita sampaikan selanjutnya sesuai dengan topic bahasan.
d.      Pengutamaan komunikan sebagai pendengar dan hindari interupsi.

2.      Memahami
Adalah bagian dimana komunikan berusaha mengerti dan mendalami apa yang disampaikan komunikator, baik pikiran maupun intonasi penyampaian pesan yang mewakili emosi.
Dalam memahami, perlu adanya:
a.       Menghubungkan informasi terbaru dari komunikator dengan apa yang terjadi saat ini di lapangan (fakta).
b.      Memahami pesan komunikator dari inti pesan yang disampaikan. Hindari menyimpulkan pesan sebelum komunikator selesai menyampaikan seluruh pesannya.
c.       Pertanyaan untuk menklarifikasi. Jika memungkinkan, tanyakan contoh real (nyata) dari penjelasan atau pesan yang disampaikan komunikator.
d.      Mengubah kalimat komunikator menjadi kalimat sendiri yang lebih mudah dipahami.

3.      Mengingat
Dalam mendengarkan diperlukan adanya ingatan, untuk mengingat pesan yang telah disampaikan. Ingatan berguna dalam melakukan komunikasi agar yang disampaikan sesuai, tidak keliru, maupun rancu. Ingatan misalnya untuk mengingat nomor telepon, alamat rumah, nama, janji temu, atau arah.
Dalam mengingat perlu adanya:
a.       Identifikasi sumber ide dan referensi yang mendukung
b.      Ringkasan pesan yang mudah  diingat. Namun perlu kehati – hatian dalam meringkas, jangan sampai menghilangkan detail/inti pesan atau bagian – bagian lain yang penting.
c.       Pengulangan nama dan kata kunci untuk mengingatkan diri sendiri, bila memungkinkan, dengan suara yang keras.

4.      Mengevaluasi
Evaluasi terdiri dari pengambilan kesimpulan. Kadang - kadang kita mencoba mengevaluasi niat atau motif dari komunikator. Seringkali evaluasi ini terjadi dalam keadaan tidak sadar atau muncul secara alami dalam bentuk kritik atau analisis. Evaluasi merupakan upaya untuk menyamakan pesan dengan realita dan fakta yang terjadi.
Dalam mengevaluasi, cobalah untuk:
  1. Memberikan evaluasi ketika telah benar – benar memahami inti pesan yang disampaikan.
  2. Asumsikan komunikator sebagai orang yang berniat baik dan berikan pula sikap baik ketika meminta klarifikasi tentang hal – hal yang ingin kita ketahui lebih detail.
  3. Bedakan fakta dari kesimpulan, opini, dan interpretasi dari individu komunikator.
  4. Temukan segala bentuk kecurigaan, hal – hal yang menarik, atau anggapan yang membuat komunikator terkesan tidak fair terhadap apa yang disampaikan.
5.      Merespon
Merespon terdiri dari dua macam. Yang pertama adalah respon yang diberikan ketika komunikator sedang menyampaikan pesan. Dan yang kedua adalah respon yang diberikan setelah menyampaikan keseluruhan pesan. Respon merupakan feedback, dimana komunikan mengirimkan kembali pesan kepada komunikator. Informasi yang dikirim kembali adalah respon mengenai perasaan dan pikiran tentang pesan yang telah disampaikan. Respon merupakan salah satu bukti yang diinginkan komunikator bahwa pesannya telahj sampai dan didengarkan.
Dalam merespon, cobalah untuk:
  1. berikan feedback yang sesuai dengan isi pesan. Berikan kesan bahwa kita mendengarkan dengan memberi respon yang singkat sekalipun. Ini akan membuat kita tidak hanya menjadi pendengar melainkan juga pengendali komunikasi tersebut.
  2. Berikan ekspresi yang mendukung
  3. Berusaha jujur, karena yang diinginkan komunikator adalah ekspresi dan feedback yang apa adanya.
  4. Ketika memberikan respon, usahakan respon adalah segala bentuk feedback yang keluar dari diri sendiri, bukan respon yang ideal.

Mendengarkan, Budaya, dan Jenis Kelamin
Mendengarkan adalah pekerjaan yang tidak mudah karena banyak latar yang berbeda dalam system komunikasio antara komunikator dan pendengarnya. Masing – masing individu memiliki pengalaman yang berbeda, yang berarti membedakan pula cara berkomunikasi dari masing – masing individu. Ketika komonikator dan komunikan berasal dari budaya yang berbeda, atau berbeda dalam hal jenis kelamin, maka reaksi alami yang terjadi akan sangat menonjol.

Budaya dan Mendengarkan
Ketika berada dalam budaya yang berbeda perlu diperhatikan bahasa, cara berkomunikasi secara nonverbal, style, sejarah dengan realita, kepercayaan, dan feedback. Hal – hal tersebut akan memberikan pandangan mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi komunikasi dan mendengarkan.
Suara dan Bahasa. Apabila komunikator dan komunikan berbicara dalam bahasa yang sama, pembicaraan belum tentu satu makna dan sama logatnya. Tidak ada dua orang yang berkomunikasi yang benar – benar sama dalam berbagai hal karena masing – masing individu memilki pengalaman dan latar belakang yang berbeda – beda.

Perbedaan Peilaku Nonverbal. Komunikator dan komunikan yang berasal dari budaya yang berbeda memiliki norma - norma yang berbeda. Perilaku nonverbal akan selaras dengan norma budaya yang mengikat. Jika perbedan yang ada sangat mencolok dan sangat jauh dari dasar pesan yang disampaikan, kita harus melihatnya sebagai adanya pengaruh orang lain atau mungkin dianggap sebagai pesan yang kontradiktif.

Kepercayaan. Kepercayaan atau keyakinan seseorang akan berbeda dari satu budaya dengan budaya yang lainnya. Misalnya: di beberapa kebudayaan, pendidikan dianggap sangat penting, dan memilih guru yang berkualitas secara intelektual bagi anak – anak mereka adalah sebuah keharusan. Tapi di budaya yang berbeda ada klaim bahwa guru yang cocok adalah yang bermoral dan agamis. Perbedaan ini adalah bentuk adanya ragam budaya yang harus dipelajari untuk memudahkan kita berkomunikasi atau memahami segala bentuk pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan latar sosio budaya yang berbeda.

Jenis Kelamin dan Mendengarkan
Laki – laki dan perempuan memilki tipe mendengarkan yang berbeda, juga dengan bahasa verbal maupun nonverbal yang berbeda. Perempuan umumnya membangun sebuah hubungan dan menetapkan sebuah pertemanan kemudian saling berkomunikasi dengan menjadi pendengar setia hingga akhir pembicaraan. Sedangkan laki – laki hanya menunjukkan keahlian, menekanken hal – hal yang dimaksud, dan mendominasi sebuah komunikasi.
Laki – laki dan perempuan menunjukkan cara mendengarkan yang berbeda. Perempuan ketika mendengarkan biasanya memberikan respon langsung ketika sedang terjadi komunikasi dengan berkata “ya” atau “hu-uh” menganggung setuju atau tersenyum. Sedangkan laki – laki lebih sering mendengarkan dengan diam, tanpa memberikan isyarat apaun sebagai bentuk feedback. Perempuan berusaha menunjukkan dirinya sebagai seorang pendengar, sedangkan laki – laki hanya menggunakan isyarat bahwa ia mendengarkan.
Namun, tidak ada bukti yang mengatakan bahwa perbedaan antara kedua jenis kelamin tersebut memilki arti atau motif tersendiri. Dengan sikap dan feedbac yang berbeda sekalipun tetap memberikan arti yang sama dalam komunikasi, sehingga terjadinya komunikasi tetap efektif.
Mendengarkan yang Efektif
Partisipatif dan mendengarkan yang pasif
Kunci agar mendengarkan menjadi efektif  dalam komunikasi interpersonal adalah dengan menjadi pendengar yang aktif. Sebagai pendengar, partisipasi dalam interaksi komunikasi sama halnya dengan memposisikan diri sebagai partner bagi komunikator, yaitu sebagai orang yang secara emosional dan intelektual terlibat dalam komunikasi yang  satu makna (memilki sudut pandang yang sama).
Partisipasi yang efektif adalah yang ekspresif. Secar nonverbal bisa dilakukan dengan adanya kontak mata, mefokuskan perhatian kepada komunikator daripada ke objek – objek yang lain. Sedangkan mendengarkan secara pasif adalah mendengarkan tanpa mengucapkan kata atau mengarahkan komunikator ke arah pembicaraan tertentu.

Empati dan Objektif
            Jika ingin memahami apa yang dimaksud dan apa yang dirasakan oleh seseorang, kita harus mendengarkan dengan rasa empati:, bersama dengan mereka, melihat dari sudut pandang yang sama, merasakan apa yang mereka rasakan. Rasa empati sangat baik di segala situasi, terlebih di tempat dan situasi yang tepat secara obyektif. Mendengarkan sebuah permasalahan haruslah dengan empati dan sudut pandang yang benar – benar objektif, tidak memihak ataupun subjektif.

Tidak Menghakimi dan Kritis

Ramah dan mendalami sebagai pendengar

sebagian terjemahan dari buku KAP dengan English Text






Gegar Budaya


Gegar Budaya

 Gegar budaya (culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lingkungan yang baru. Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambing-lambang dalam pergaulan social. Misalnya kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang, kapan dan bagaimana kita memberikan tip, bagaimana berbelanja, kapan menolak dan menerima undangan, dsb. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin berbentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup kita sejak kecil. Bila seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk ini lenyap. Ia bagaikan ikan yang keluar dari air. Orang akan kehilangan pegangan lalu mengalami frustasi dan kecemasan. Pertama-tama mereka akan menolak lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengecam lingkungan itu dan menganggap kampung halamannya lebih baik dan terasa sangat penting. Orang cenderung mencari perlindungan dengan berkumpul bersama teman-teman setanah air, kumpulan yang sering menjadi sumber tuduhan-tuduhan emosional yang disebut stereotip dengan cara negatif. Misalnya, “Orang-orang Amerika Latin yang malas” “Orang Indonesia yang anarkis”, dsb. Pernah ada seorang Belanda dan beberapa orang Jepang yang mengalami kasus serupa ketika berkunjung ke Indonesia, mereka sama-sama mengalami diare akibat memakan masakan Indonesia. Mereka hanya bisa menerima makanan dari restorant-restorant berlisensi barat seperti Hartz, Pizza Huts, dll, atau restorant Jepang. Orang Belanda tersebut langsung melakukan stereotip bahwa makanan di Indonesia kurang higenis.
Sojourneys dan Settlers
Ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourney) dengan orang yang mengambil tempat tinggal tetap, misalnya di suatu Negara (settler). Seperti yang dikatakan oleh Bochner: karena respek mereka terhadap pengalaman kontak dengan budaya lain berbweda, maka reaksi mereka pun berbeda. Settlers berada daalm proses membuat komitmen tetap pada masyarakat barunya, sedangkan sojourneys berada dalam landasan sementara, meskipun kesementaraannya bervariasi, antara turis dalam sehari, sampai pelajar asing dalam beberapa tahun.
Definisi Culture Shock
Istilah culture shock pertama kali diperkenalkan oleh antropologis bernama Oberg. Menurutnya, culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambing dan symbol yang familiar dalam hubungan social, termasuk didalamnya seribu satu cara yang mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya: bagaiman untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana kita tidak perlu merespon.
Banyak definisi dari para ahli tentang gegar budaya, namun pada initinya, jika kami menyimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. Deddy Mulyana lebih mendasarkan gegar budaya sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami. Lingkungan baru dapat merujuk pada agama baru, sekolah baru, lingkungan kerja baru, dsb. Contohnya ada seorang Australia yang mengunjungi sahabat penanya di Malaysia dan tinggal di rumah sahabatnya itu untuk sementara waktu, dia terkejut seputar kamar mandi dan toilet. Kmar mandi yang berupa ruangan sempit dengan makuk besar berisi air dingin dan sebuah gayung sementara toiletnya hanya berupa ruang kecil dimana dipojokannya ada lubang kecil di dasar lantainya. Orang tersebut mengalami kesulitan karena dirinya terbiasa dengan kamar mandi modern, dengan bathtub dan shower serta air hangat. Ada orang Indonesia yang mendapat beasiswa study di Paris, merasa kurang nyaman melihat perilaku-perilaku mesra para lesbi dan gay yang ditunjukan secara vulgar di sekitarnya. Dia tidak terbiasa dengan pasangan homogen di Indonesia karena komunitas marginal tersebut lebih tertutup dan mendapat perlakuan diskriminatif oleh banyak pihak di Indonesia. Sementara di Paris dan beberapa negara liberal, komunitas mereka adalah independen dan bebas. Berciuman dan bermesraan di depan umum pun tidak dianggap suatu perbuatan memalukan.
Reaksi pada culture shock
Reaksi terhadap culture shock bervariasi antara 1 individu dengan individu lainnya, dan dapat muncul pada waktu yang berbeda. Rwekasi-reaksi yang mungkin terjasi, antara lain:
  1. antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru.
  2. rasa kehilangan arah
  3. rasa penolakan
  4. gangguan lambung dan sakit kepala
  5. homesick/ rindu pada rumah/ lingkungan lama
  6. rindu pada teman dan keluarga
  7. merasa kehilangan status dan pengaruh
  8. menarik diri
  9. menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka
Tingkat-tingkat Culture shock (u-curve)
Meskipun ada berbagai variasi reqaksi terhadap culture hock, dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri, sebagian besar literatur menyatakan bahwa orang biasanya melewati 4 tingkatan culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva u, sehingga disebut u-curve.
Fase optimistic, fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru
Masalah cultural, fase kedua di mana maslah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, system lalu lintas baru, sekolah baru, dll. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis daalm culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengan dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.
Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.
Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang telah mengertpi elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, adapt khusus, pola keomunikasi, keyakinan, dll). Kemampuan untuk hidup dalam 2 budaya yang berbeda, biasanya uga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa hali menyatakan bahwa, untuk dapat hidup dalam 2 budaya tersebut, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu, dan memunculkan gagasan tentang W curve, yaitu gabungan dari 2 U curve.
Deddy Mulyana menyebut gegar budaya sebagai suatu penyakit yang mempunyai gejala dan pengobatan tersendiri. Beberapa gejala gegar budaya adalah buang air kecil, minum, makan dan tidur yang berlebih-lebihan, takut kontak fisik dengan orang-orang lain, tatapan mata yang kosong, perasaan tidak berdaya dan keinginan untuk terus bergantung pada penduduk sebangsanya, marah karena hal-hal sepele, reaksi yang berlebihan terhadap penyakit yang sepele, dan akhirnya, keinginan yang memuncak untuk pulang ke kampung halaman.
Derajat gegar budaya yang mempengaruhi orang berbeda-beda. Ada beberapa orang yang tidak dapat tinggal di negara asing. Namun, banyak pula yang berhasi menyesuaikan diri dengan lingkunagan barunya. Deddy Mulyana juga memaparkan tahapan-tahapan penyesuaian orang terhadap lingkungan barunya yang hampir mirip dengan tahapan sebelumnya. Tahap pertama yang disebut tahap ‘bulan madu’ berlangsung dalam beberapa minggu sampai 6 bulan dimana kebanyakan orang senang melihat hal-hal baru. Orang masih bersemangat dan beritikad baik dalam menjalin persahabatan antarbangsa. Tahap kedua dimulai ketika orang mulai menghadapi kondisi nyata dalam hidupnya, ditandai dan dimulai dengan suatu sikap memusuhi dan agresif terhadap negeri pribumi yang berasal dari kesulitan pendatang dalam menyesuaikan diri. Misalnya kesulitan rumah tangga, kesulitan transportasi dan fakta bahwa kaum pribumi tak menghiraukan kesulitan mereka. Pendatang menjadi agresif kemudian bergerombol dengan teman-teman sebangsa dan mulai mengkritik negeri pribumi, adat-istidatnya, dan orang-orangnya. Tahap ketiga pendatang mulai menuju ke kesembuhan dengan bersikap positif terhadap penduduk pribumi. Tidak lagi menimpakan kesulitan-kesulitan yang dialami sebagai salah penduduk pribumu atas ketidanyamanan yang dialaminya tetapi mulai menanggulanginya, “ini masalahku dan aku harus menyelesaikannya”. Pada tahap keempat, penyesuaian diri hampir lengkap. Pendatang sudah mulai menerima adat-istiadat itu sebagai cara hidup yang lain. Bergaul dalam lingkungan-lingkungan baru tanpa merasa cemas, walau kadang masih ada ketegangan sosial yang nantinya seiring dalam pergaulan sosialnya ketegangan ini akan lenyap. Akhirnya pendatang telah memahami negeri pribumi dan menyesuaikannya, hingga akhirnya, ketika pulang ke kampung halaman pun kebiasaan di negeri pribumi tersebut akan dibawa-bawa dan dirindukan.
dikutip di: http://luciatriedyana.wordpress.com/2009/04/23/culture-shock/ 

Contoh Gegar Budaya
            Tak disangka, pengumuman SNM-PTN 2008 megharuskan aku mengenal Pulau Madura. Pulau ini sebenarnya tak terlalu asing bagiku. Semasa SMA aku pernah bertandang ke pulau garam ini. Bahkan semasa kecil pernah berlibur kesini. Tak terkecuali dengan Kampus Universitas Trunojoyo, aku pun pernah mampir dan berkeliling.
            Namun perjalannanku yang singkat tidak membuatku terlalu mengenal pulau kerapan sapi ini. Hanya sepintas lalu terlihat tanahnya yang kering dan sedikit merah. Juga beberapa wilayah yang hijau, dan sebagian yang lain justru gersang. Pengenalan singkat ini tidak cukup untuk membuatku betah di Madura. Setelah pengumuman SNM-PTN yang menyatakan aku diterima di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), aku bergegas menyiapkan diri untuk boyongan ke Madura. Aku memilih kos di wilayah sekitar kampus. Hari – hari mengenal Madura dimulai.
Panas Madura yang menyengat berbeda dengan panas Surabaya, khususnya daerah rumahku. Di tepian jalan yang hanya ditumbuhi rumput dan bunga liar, hanya panas yang bisa dirasa, tanpa ada pepohonan sedikitpun. Meskipun persawahan masih luas terbentang, tetap saja kehijauannya terkalahkan oleh sinar matahari yang langsung menyentuh kulit, tanpa ada peneduh sedikitpun. Seketika kulit yang terbuka menghitam setelah beberapa jam saja berada di luar ruangan. Ini yang membuat hati sangat kenes. Perawatan ini itu ingin dijalani agar kulit bisa kembali seperti semula, sayangnya saku anak kos hanya cukup untuk keperluan kuliah. Sementara selama di SMA aku tidak pernah berbedak, selama kuliah jadi harus memakainya untuk menutup kulit wajah yang hitam dan kusam.
Beda panas, beda lagi dengan hujan. Musim yang mulai berganti semakin mengenalkan sosok Madura yang sebenarnya. Ketika hujan, tanah yang mulanya keras dan terbelah – belah ketika panas, menjadi rapat dan becek bukan main. Selain licin, tanah ini sangat lembek sehingga kaki mudah terjebak. Sungguh sulit memahami tanah Madura. Kalau sudah demikian, sepatu harus sering dicuci, tapi tentu saja sulit kering karena mendung lebih sering dating disbanding panas matahari.
Sementara dengan masyarakat Madura, agak sulit bagiku untuk beradaptasi, karena karakter personal dan gaya bahasanya berbeda. Ketika tidak mengerti apa yang disampaikan teman – teman dari Madura, aku meminta penjelasan, sekaligus belajar mengerti bahasa Madura.

Kecerdasan Intelektual (IQ)


KECERDASAN INTELEKTUAL ( IQ )

Menurut Alfred Binet Simon, Kecerdasan intelektual ( IQ ) menentukan kesuksesan seseorang. Beliau merumuskan bahwa dengan IQ yang tinggi, maka tingkat kesuksesan lebih tinggi. Dan sebaliknya, tingkat IQ yang rendah menandakan tingkat kesuksesan yang rendah pula atau sulit untuk sukses. Jadi, tingkat IQ menjadi tolak ukur bagi kesuksesan hidup seseorang.
Kecerdasan intelektual pada individu dipengaruhi oleh fungsi otaknya. Ada dua bagian otak pada manusia dimana masing – masing bagian memeiliki kapasitas yang berbeda – beda. Dua bagian itu adalah otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan bagian untuk logika, perhitungan, bahasa, urutan dan sebagainya. Sedangkan otak kanan berfungsi dalam berimajinasi, kreatifitas, permainan warna, gambar dan pengolahan musik. Keseimbangan antara perkembangan dan penggunaan otak kanan dan otak kiri sangat mempengaruhi kemajuan pada kecerdasan intelektual seseorang.
Namun, di era ini, banyak orang yang tidak menyadari pentingnya penyeimbangan antara otak kanan dan otak kiri. Seringkali penggunaan otak kanan diabaikan dan hanya memacu otak kiri untuk bekerja lebih keras. Misalnya pada sistem pendidikan saat ini, hanya menonjolkan ilmu – ilmu sains dan sosial yang kurang melibatkan daya kreatifitas dan imajinasi seseorang.
Sistem pendidikan yang ideal adalah yang mampu mengoptimalisasi kerja otak dengan menyeimbangkan antara kecerdasan spiritual, emosional, dan rasional. Penyeimbangan ini akan sangat menunjang output dari sistem pendidikan itu sendri, yaitu menghasilkan individu – individu yang cerdas dan siap pakai.
Jenis - jenis kecerdasan, diantaranya :
1.      Kecerdasan linguistik
2.      Kecerdasan matematika
3.      Kecerdasan spasial
4.      Kecerdasan kinestetik
5.      Kecerdasan musik
6.      Kecerdasan interpribadi
7.      Kecerdasan antarpribadi

Dan sebagai tambahan
1.      Kecerdasan naturalis
2.      Kecerdasan eksistensia
3.      Kecerdasan spiritualis

Disebutakan oleh seorang ilmuwan bernama Bloom, bahawa cara berpikir manusia berurutan dalam tingkatanya.
  1. Remembering ( ingatan )
  2. Understanding ( pemahaman )
  3. Applying ( pengaplikasian )
  4. analizing ( menganalisis )
  5. Creativ ( berkreativitas )

KECERDASAN EMOSIONAL

Kecerdasan Emosiaonal adalah kemampuan sesorang dalam mengenali dan mengelola emosinya sendiri. Pemahamn dalam pengendalian emosional bermanfaat untuk menentukan keberhasilan seseorang secara dominant dalam meraih kesuksesan hdup dan dalam dunia kerjanya.
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional sesorang diantaranya :
1.      Genetik. Warisan genetik, memberi serankaian muatan emosi tertentu yang menentukan temperamennya.
2.      Proses pembelajaran. Proses pembelajaran pada setiap individu berlangsung sejak lahir dari lingkungannya. Lingkungan sangat mempengaruhi segala bentuk perilaku dalam diri individu. Proses pembelajaran terbagi di tiga tempat ;
1.      keluarga
2.      sekolah formal
3.      masyarakat
3.      Kemampuan atau pemahaman agama. Agama menjadi salah satu landasan pokok bagi kehidupan manusia. Pemahaman terhadap agama mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir seorang individu.
4.      Penyakit. Kelainan – kelainan tertentu dalam diri individe berpengaruh pada kecerdasan emosional ( berupa hormon, syaraf, dsb )
5.      Neurotistik. Yaitu logam berat, insektisida, atau pengaruh narkoba pada diri individu.

KECERDASAN HOLISTIK

Kecerdasan Holistik adalah kemampuan dan pemahaman individu terhadap sisi spiritual dalam dirinya.
Penciptaan manusia oleh Allah swt terdiri dari empat unsur :
1.      Jasad sebagai penindak, berbuat, malaksanakan
2.      Akal sebagai penerioma ilmu, penerima maklumat
3.      Nafsu sebagai penerima rangsang dan berkehendak
4.      Hati semata – mata sebagi perasa

Fakta dalam masyarakat Indonesia :
  1. hilangnya kejujuran
  2. hilangnya rasa tanggung jawab
  3. tidak berpikir jauh kedepan ( tidak visioner )
  4. rendahnya disiplin
  5. krisis kerjasama
  6. krisis keadilan
  7. krisis kepedulian
Melihat dan memahami fakta yang terjadi dalam masyarakat Indonesia perlu diadakan perbaikan. Usaha yang dapat dilakukan diantaranya :
  1. merubah mindset
  2. change believes ( mengubah kepercayaan )
  3. change behaviours ( mengubah perilaku )
  4. mengalami nilai moralitas
  5. jujur, adil dan bertanggung jawab
  6. menjadi individu yang visioner
  7. bekerja sama

Yang menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis melainkan kualitas diri yang termasuk dalam kategori softskill  atau keterampilan berhubungan dengan orang lain. (  people skills )
Kiat – kiat sukses menurut pemateri :
  1. Nafsu ( semangat, gairah )
  2. intelegensi (  hard skll  )
  3. kemampuan komunikasi yang baik
  4. kesehatan dan energi yang makksimal
  5. kcerdasan spiritual yang baik
  6. kreati, inovatif
  7. rendah hati
  8. selalu bersikap positif
  9. hidup dalam keluarga yang harmonis ( selalu mengusahakan keselarasan antar individu dalam keluarga )
  10. fokus terhadap suatu pekerjaan dan disiplin dalam pengerjaannya. 
 Maaf ane lupa ngutip dimana, jangan lupa sumbernya..

Makalah - Fungsi Komunikasi


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Komunikasi merupakan sarana yang paling vital bagi setiap manusia untuk mengerti dirinya sendiri, mengerti orang lain dan memahami lingkungannya. Mengetahui tempat dan cara kehadirannya di masyarakat serta hubungan dengan sesama yang ada di sekitarnya. Semua itu dapat dipahami dengan adanya “Jalur Komunikasi” yang terjalin baik. Komunikasi tidak saja dikenal dalam bidang kehumasan (public relations) ataupun dalam dunia pers, melainkan mempunyai cakrawala pemahaman yang sangat luas. Hampir di setiap aspek kehidupan manusia terjalin proses komunikasi yang disadari maupun tidak disadari.
Komunikasi menjadi sarana bagi manusia untuk menjalin hubungan sosial diantaranya. Hubungan sosial yang terjalin akan memudahkan setiap individu untuk memenuhi kehendak dan kebutuhannya.
Tujuan – tujuan dalam berkomunikasi , oleh para pakarnya di asumsikan sebagai fungsi komunikasi. Fungsi – fungsi komunikasi yang dipaparkan dalam keilmuan komunikasi merupakan tujuan – tujuan yang hendak dicapai ketika terjadi komunikasi antarindividu. Tujuan – tujuan yang dimaksud akan tercapai bila respon yang diberikan komunikan adalah respon yang positif.
Dalam makalah ini akan dijelaskan secara sederhana beberapa fungsi – fungsi komunikasi yang telah dirumuskan oleh pakarnya.

1.2  TUJUAN
            Dalam penulisan makalah ini, memiliki tujuan ;
a.       Mengenal fungsi-fungsi dari komunikasi
b.      Memahami dan mengaplikasikan fungsi-fungsi komunikasi

1.3  PEMBATASAN MASALAH
            Dalam penulisan makalah ini penulis hanya membahas fungsi-fungsi dari komunikasi yang telah dirumuskan secara garis besar oleh pakarnya.

BAB II
PEMBAHASAN

Apa yang mendorong kita berkomunikasi ?
Manfaat – manfaat apa yang kita peroleh dalam berkomunikasi ?
Sejauh mana komuniksai memberikan andil bagi kepuasan kita ?
Pertanyaan – pertanyaan demikianlah yang lebih difokuskan oleh ahli komunikasi. Pertanyaan – pertanyaan inilah yang selalu menjadi pemikiran pakar komunikasi daripada mendefinisikan apa yang diosebut komunikasi. Adapun untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut, para pakar komunikasi merumuskan fungsi – fungsi komunikasi. Fungsi – fungsi ini dirumuskan berdasakan pengamatan terhadap lingkungan.
Fungsi Komunikasi secara umum
1.       Dapat menyampaikan pikiran atau perasaan
2.       Tidah terasing atau terisolasi dari lingkungan
3.       dapat mengajarkan atau memberitahukan sesuatu
4.       dapat mengetahui atau mempelajari dari peristiwa di lingkungan
5.       Dapat mengenal diri sendiri
6.       Dapat memperoleh hiburan atau menghibur orang lain.
7.       Dapat mengurangi atau menghilangkan perasaan tegang
8.       Dapat mengisi waktu luang
9.       Dapat menambah pengetahuan dan merubah sikap serta perilaku kebiasaan
10.    Dapat membujuk atau memaksa orang lain agar berpendapat bersikap atau berperilaku sebagaimana diharapkan.
Deddy Mulyana dalam bukunya, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar mengutip Kerangka berpikir William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi menjadi empat bagian.
1. FUNGSI KOMUNIKASI SOSIAL
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan. Pembentukan konsep diri.
Komunikasi sosial merupakan komunikasi yang dilakukan sebagai bentuk pemenuhan diri untuk merasa terhibur, nyaman, dan tentram. Dua komunikan yang saling berkomunikasi tanpa menentukan topik sebelumnya dan tanpa ada tujuan khusus, mampu berkomunikasi hingga berjam – jam. Pesan – pesan yang saling ditukarkan mungkin hal yang remeh, namun pembicaraan antara keduanya menimbulkan rasa senang dan nyaman.
a. Pembentukan konsep diri
            konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita, dan hal ini kiota dapatkan dari inforamasi yang disampaikan orang lain kepada kita. Aspek – aspek konsep diri meliputi jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pengalaman, rupa fisik, dan lain sebagainya yang kita tanam dalam diri kita melalui peryataan ( umpan balik ) dari orang lain, yang akhirnya menuntut kita untuk berperilaku sebagaimana orang lain memandang kita.
b. Pernyataan eksistensi diri
            Orang berkomunikasi untuk menunjukkan bahwa dirinya eksis. Bila kita berdiam diri maka seolah – olah kita tidak ada ( menurut persepsi orang lain ). Sikap aktif dari individu merupakan bentuk peryataan dirinya  bahwa dia ada. Sedangkan sikap pasif ( diam ), akan memepengaruhi orang lain untuk mempersepsikan bahwa kita tidak tidak ada dan tidak dinutuhkan.
c. Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan
            Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita harus berkomunikasi dengan orang lain dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan kita. Kebutuhan biologis seperti makanan dan minuman. Kebutuhan psikologis seperti sukses dan kebahagiaan. Melalui komunikasi pula, kita dapat memenuhi kebutuhan emosional kita dan meningkatkan kesehatan mental kita. Kita belajar makana cinta, kasih sayang, keintiman, simpati, rasa hormat, bangga, benci dan lain sebaagainya. Melalui komunikasi, kita dapat mengalami berbagai kualitas perasaan itu dan membandingkannya antara perasaan yang satu dengan perasaan lainnya.
2. FUNGSI KOMUNIKASI EKSPRESIF 
Komunikasi ekspresif tidak secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi orang lain, namun dapat terjadi sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen dalam menyampaikan perasaan ( emosi ) kita. Perasaan tersebut disampaikan melalui pesan – pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, takut, marah atau benci dapat disampaikan lewat kata – kata, namun dapat tersampaikan pula melaui perilaku nonverbal.
3. FUNGSI KOMUNIKASI RITUAL
Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara - upacara berlainan sepanjang tahun. Dalam kegiatan –kegiatan tersebut orang mengucapakan kata – kata dan menampilkan perilaku yang bersifat simbolik. 
4. FUNGSI KOMUNIKASI INSTRUMENTAL
Komunikasi instrumental  mempunyai beberapa tujuan umum, yaitu: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur (persuasif).  Komunikasi instrumental mengandung muatan persuasif yang mempengaruhi komunikan untuk mempercayai bahwa pesan yang disampaikan komunikator akurat dan layak untuk diketahui.
BAB III
PENUTUP

1. Simpulan
            Fungsi komunikasi secara garis besar terbagi atas empat fungsi. Yaitu sebagai komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual dan komunikasi instrumental. Fungsi – fungsi ini mencakup berbagai macam tujuan individu melakukan komunikasi dengan individu yang lain. Selain untuk menyampaikan maksud juga untuk menerima respon dari lawan komunikasi.

2. Saran
             Setelah mengetaui fungsi – fungsi komunikasi, kita hendaknya mampu berkomunikasi dengan baik, pada tempatnya serta dengan media yang tepat.

Tugas Analisis Wirausaha


            Tantangan pembangunan yang dialami saat ini terutama adalah tantangan kesempatan kerja atau usaha bagi penduduk yang terus meningkat. Jutaan orang atau pemuda memerlukan kerja sementara lapangan kerja formal yang baru relative lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang ada. Bahkan sebagian lowongan kerja yang ada tidak dapat terisi oleh mereka yang mencari pekerjaan karena tidak memenuhi persyaratan atau kualifikasi yang diminta. Sebagian besar tenaga kerja tersebut memang berpendidikan rendah dan tidak memiliki keterampilan khusus. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka kemudin mencari dan berusaha sendiri dalam berbagai usaha kecil. Karena usaha mereka umumnya tidak menentu dan tidak terdaftar secara resmi, maka usaha mereka sering disebut usaha informal.  Contoh usaha tersebut adalah seperti studi kasus yang akan dipaparkan di bawah ini.
            Pak Sa’i dan lampu hemat energi. Seorang warga yang hanya selesai mengenyam pendidikan SMP ini hanyalah warga biasa yang tak pernah sekolah tentang listrik. Namun, kesabaran, keuletan dan kekreatifannya membuhkan hasil. Limbah sampah yang siap dibuang bisa dimanfaatkannya menjadi barang baru yang berdaya guna. Warga pamekasan ini mampu mendulang rupiah dari keterampilannya membuat ribuan lampu hemat tenaga listrik. Pada awal ’90, pak Sa’I berhasil merangkai sebuah lampu komponen hemat daya listrik. Sejak itu teruslah dia kembangkan keterampilannya ini hingga sekarang mampu membeli tanah dan membangun rumah tinggal dan tempat usahanya.
            Usaha membuat lampu hemat daya listrik inipun mulai dilirik konsumen. Sampah – sampah elektonik yang dikumpulkan pak Sa’i dan telah diolahnya menjadi barang berguna ini terus maju hingga tahun 1997. Konsumen pak Sa’i pun merambah tidak hanya di Pamekasan, melainkan di Banyuwangi, Bondowoso, Jember dan Probolinggo. Di masing – masing daerah ia telah menempatkan distributornya. Usaha ini mulai sedikit menurun ketika krisis moneter melanda pada tahun 1998. Sejak itu kondisi usahanya semakin parah, ditambah sejak masuknya lampu hemat impor dari Cina. Meski dirasa menurun, pak Sa’i terus berproduksi dengan mencoba memberikan pelayanan lebih, disertai dengan harapan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor yang menjadi saingan dalam usahanya.

Analisis :
            Kegiatan yang dilakukan oleh pak Sa’i tergolong dalam kegiatan wirausaha. Minoritas. Ada kemungkinan untuk semakin berkembang atau bahkan berhenti sama sekali. Yang dialami pak Sa’i pada mulanya adalah usaha yang berkembang pesat kian harinya. Namun karena perubahan dinamika pemerintahan, usaha pak Sa’i mengalami kemunduran. Ada kemungkinan apabila keterpurukan yang dialami usahanya semakin meningkat, usahanya akan berakhir.   
            Usaha pak Sa’i tergolong usaha informal. Usahanya awalnya adalah usaha yang tidak terstruktur dan tidak direncanakan. Pengembangannya juga merupakan pengembangan siuasional yang mengandalkan pada nasib. Tapi, usaha pak Sa’i ini merupakan hasil dari jiwa inofatif, kreatif, dan  analitif. Selain mengandalkan keterampilan, kemampuan melihat peluang adalah bukti bahwa ada jiwa wirausaha dalam diri pak Sa’i. Semasa usahanya mampu menaikkan taraf hidup, pak Sa’i berusaha ntuk melebarkan sayap. Pun ketika krisis moneter melanda, pak Sa’i terus melakukan upaya untuk mempertahankan usahanya. 

Kelemahan usaha yang ia rintis diantaranya:
  1. Kurangnya stabilitator dari pemerintah, sehingga usahanya kalah saing dengan produk impor.
  2. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penggunaan produk lokal

Bentuk – bentuk upaya yang dapat dilakukan, diantaranya perlu:
  1. Kesadaran pemerintah untuk membatasi impor produk asing dan memberdayakan usaha kecil seperti milik pak Sa’i agar mampu bersaing di pasaran
  2.  Kesadaran pemerintah untuk memberikan wacana kepada masyarakat akan pentingnya penggunaan produk lokal dan mengurangi konsumsi produk asing. Perlu adanya wacana yang memberitakan untung dan rugi penggunaan produk asing.
  3. Pengembangan usaha dari pak Sa’i dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Perlu juga menambah wawasan dalam diri pak Sa’i agar lebih mampu mengenal dunia usaha dan mengantisipasi segala resikonya.
  4. Peningkatan manajemen dalam usahanya. Penambahan relasi, penambahan pangsa pasar, peningkatan kualitas, dan perencanaan usaha
  Memenuhi Tugas di mata kuliah Kewirausahaan

Filsafat Pancasila


Filsafat Pancasila

Secara Etimologis istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, ”Philein” yang artinya “cinta” dan “Sophos” yang artinya “hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom”. Secara harfiah, makna filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Filsafat diartikan sebagai pandangan hidup manusia, di mana manusia selalu berupaya mencari pandngan hidup yang paling benar, paling baik dan membawa kesejahteraan dalam kehidupannya.
            Arti filsafat dikelompokkan menjadi dua:
1.      Filsafat Sebagai Produk
a.       Filsafat yang mencakup arti – arti filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep dari para filsuf, teori, sisitem atau pandangan tertentu, yang merupakan hasil dari proses berfilsafat dan yang mempunyai cirri – cirri tertentu.
b.      Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Pengertian ini berciri – cirri khas sebagai suatu hasil kegiatan berfilsafat, di mana persoalan diselesaikan dengan berfilsafat (filsafat sebagai proses yang dinamis)
2.      Filsafat Sebagai Suatu Proses
Filsafat yang diartkan sebagai bentuk suatu aktifitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu yang sesuai dengan objek permasalahan.
Manfaat Filsafat
Tujuan – tujuan berfilsafat adalah untuk mengumpulkan pengetahuan manusia, mengajukan kritik, menilai pengetahuan, dan mnemukan hakikatnya. Maka manfaat yang dapat diambil dari berfilsafat adalah terbawanya kita pada pemahaman akan tindakan yang lebih layak, bijaksana, dan arif. Sedangakn fungsi filsafat adalah sebagai pandangan hidup untuk bisa bertindak bijaksana, berwawasan luas, dan obyektif memandang suatu obyek. Filsafat akan membentuk sikap kritis, analis yang kritis yang kompeten.
Kesatuan Filsafat
  1. Epistemologi, yaitu filsafat sebagai suatu pengetahuan (logika, ilmu, metodologi) yang menjadi dasar bagi manusia untuk bertindak. Hal ini menekankan bahwa segala sesuatu yang kita pelajari harus memiliki landasan ilmu pengaetahuan.
  2. Ontologi, yaitu bagian – bagian atau wujud dari filsafat, di mana segala sesuatu yang kita kaji harus memilki bentuk kajian itu sendiri. Ontologi menitikberatkan pada mengkaji suatu bentuk konkret, faktual, transdental maupun metafisis.
  3. Aksiologi, yaitu filsafat sebagai suatu ilmu yang berbentuk diterapkan dalam kehidupan, dengan membandingkan filsafat yang satu dengan filsafat yang lain sebagai upaya mencari hakikat kebenaran dan kebijaksanaan dalam bentuk evaluasi.

Pancasila Sebagai Suatu Sistem
Pancasila yang terdiri dari lima sila pada hakikatnya adalah sebuah system. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian – bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh, yang terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.
Pancasila yang terdiri atas bagian – bagian yaitu sila – sial Pancasila, di mana setiap sila pada hakikatnya merupakan asas tersendiri, yang berfungsi masing – masing dengan tujuan tertentu nyang berbeda. Namun, isi masing – masing sila pada hakikatnya adalah satu kesatuan dan keutuhan yang sifatnya majemuk tunggal, yaitu saling terkait antara sila yang satu dengan sila yang lain dan tidak dapat berdiri sendiri – sendiri.

Kesatuan Sila – Sila Pancasila
            Jika dilihat dari intinya, sila – sila dalam pancasila menunjukkan suatu rangkaian yang berurutan, di mana sila yang mendahului sila yang lain adalah karena suatu kekhususan. Dalam susunan hierarkis dan piramidal, ketuhanan yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial. Sebaliknya, Ketuhana yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Demikian seterusnya sehingga tiap – tiap sila dalam Pancasila mengandung sila – sila yang lain.

Kesatuan Pancasila sebagai suatu Sistem Filsafat
Kesatuan Pancasila sebagai filsafat adalah pancasila yang terdiri dari lima sila dijalankan sebagi suatu sistem yang selalu menjadi landasan, menjadi pandangan hidup, serta menjadi tolak ukur utama dalam berindak.  Filsafat Pancasila adalah bagaimana masyarakat Indonesia bertindak berdasarkan sila – sila pancasila dan menjauhkan diri dari segala hal hal yang tidak berakar pada pancasila.
Kesatuan sila – sila pancasila pada hakikatnya bukan hanya kesatuan yang bersifat formal, namun meliputi kesatuan Epistemologis, Ontologis dan aksiologis.
1.      Dasar Epistemologis Sila – sila Pancasila
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada dasarnya adalah suatu sistem pengetahuan. Dalam kehidupan, pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam smesta, manusia, masyarakat, bangsa, dan negara tentang makna hdup serta sebagai dasar bagi manusia menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
Hal mendasar dalam epistemologis yaitu;
a.       Sumber pengetahuan manusia
b.      Teori kebenaran pengaetahuan manusia
c.       Watak pengetahuan Indonesia
2.      Dasar Ontologis Sila – sila Pancasila
Dasar Ontologis Pancasila adalah manusia, yang memilki hakikat mutlak monopluralis. Subyek pendukung pancasila adalah manusia itu sendiri. Sama halnya ketika kita memahami dari segi filsafat negara bahwa pancasila adalah dasar filsafat negara. Adapun pendukung pokok negara adalah rakyat, dan unsur rakyat adalah manusia itu sendiri. Dalam filsafat Pancasila tersirat bahwa dasar antropologis sila – sila pancasila adalah manusia.
3.      Dasar Aksiologis Sila – sila Pancasila
Dasar aksiologis pancasila adalah nilai – nilai yang digunakan manusia untuk mengukur hakikat pancasila. Nilai – nilai yang terkandung dalam pancasila dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Nilai itu sendiri bergantung pada subyek yang memandang.
Keragaman sudut pandang manusia membedakan nilai – nilai yang disesuaikan dengan sudut pandang subyek.

            Filsafat Pancasila sebagai dasar kehidupan adalah bagaimana manusia bertindak berdasarkan nilai – nilai pancasila. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, filsafat pancasila bertindak sebagai identitas nasional. Hal ini didasari realitas bahwa asala nilai – nilai pancasila adalah bangsa Indonesia itu sendiri. Filsafat Pancasila merupakan dasar dari negara dan konstitusi (Undang – undang dasar Negara) Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa filsafat Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, memilki konsekuensi bahwa segala peraturan perundang – undangan dijabarkan dari nilai – nilai pancasila. Dengan kata lain, pancasila merupakan sumber hukum dasar Indonesia, sehingga seluruh hukum positif Indonesia diderivasikan atau dimunculkan dari nilai – nilai pancasila.
            Pancasila menjadi dasar filosofi bagi seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia, termasuk sebagai filosofi Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Filsafat Pancasila adalah sebuah pandangan hidup utama yang harus dijalani oleh setiap warga negara Indonesia.