Selasa, 03 Mei 2011

Usiamu..

Pernahkah dalam Isya'mu, di penghujung harimu untuk kemudian menutupnya dengan terlelap, kau minta pada Allah agar kau di beri kesempatan untuk menemui hari esok? Jawablah dalam hatimu.
Pernahkan dalam setiap desahan nafasmu, selalu terhembus dzikir? tanpa terputus? Lalu dalam doamu kau mintakan usia sedetik, dua detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari bahkan bertahun-tahun ke depan?
Pasti jawabnya tidak.

Tapi, tanpa kau minta, Allah memberinya kan? Tanpa kau minta, Allah menluangkan kesempatan bagimu, dalam setiap detik-detik kehidupanmu, dan hanya dua saja hal yang diperintahnya, menjadi khalifah di bumi dan menjadi hamba yang beribadah kepadaNya. Ingatlah kau tak pernah minta, dan Allah memberinya.
Kesempatan itu hanya untuk satu, bukan untuk disiakan, namun untuk terus memperbaiki diri, hingga surga layak menantimu. Allah memberimu kesempatan untuk meperbaharui dirimu dengan kebaikan yang melayakkanmu mendapati surga, menjadi lebih baik dari masa lalumu.

Dan selama usiamu, terus diberi kesempatan itu, kau gunakan untuk apa?
padahal kau tahu pada hari hisab nanti, manusia tidak akan bergerak dari mahkamah Allah swt sehingga dikemukakan kepadanya lima pertanyaan: usiamu digunakan untuk apa, masa mudamu untuk apa kamu pergunakan, hartamu dari sumber mana kamu mendapatkannya, hartamu itu dimanakah kamu belanjakan, ilmumu apakah kamu telah mengamalkannya..

Senin, 02 Mei 2011

Aku - setengah fiksi


Aku. Begitu tiga huruf itu bertengger di dalam wordpad di hadapanku. Sudah berjam-jam lamanya aku masih menimbang-nimbang kata selanjutnya. Keringat sudah membasahi punggungku berjam-jam lalu. Desiran kipas angin di kamarku, seakan menjadi soundtrack suram di kepalaku. Kenapa otakku jadi serasa kaku? Apa ini benar-benar pekerjaan konyol? Duduk manis di depan komputerku dengan sebuah niatan tulus tapi rumit, "menulis".

Ide konyol ini semata-mata terinspirasi dari tulisan seorang sahabat dunia maya, tentang pengalaman luar biasa dalam catatannya, bertemu seorang penulis cantik yang juga adalah idolaku, menggelitikku untuk benar-benar going real menjadi penulis. Hehehe, sebenarnya aku tertawa dalam hati. “Sok banget udah nyebut diri penulis, padahal baru tiga huruf yang bisa diketik”. Tapi hati di sebelahnya berbisik juga, "tiga huruf, tulisan juga kan, tak apalah", hiburnya padaku. Dalam catatan itu, ini kata-kata paling menyindir egoku;  Dari Hasan Al Banna, “pemuda Islam harus seimbang antara menulis dengan membacanya.” Hanya gila membaca saja, itu mah ga’ keren. Aku merasa kekerenanku hilang seketika. Kalimat ini ditulis oleh seorang pejuang Islam tersohor, jadi benar-benar menghilangkan kekerenanku. Oh, aku jadi tak keren lagi. what's wrong?

Aku memang sering sekali bergaul dengan komputerku. Elektronik satu ini membuatku sangat menikmati kehidupan. Tapi tentu saja, yang kulakukan bukanlah pekerjaan yang biasa dilakukan Asma Nadia atau Habbiburrahman el Shirazy, menapaki karir mereka sebagai penulis. Komputerku menyimpan puluhangame yang biasa kumainkan berjam-jam. Pergaulanku dengannya adalah menyelesaikan misi-misi dari setiap level game yang sedang aku mainkan. Pekerjaan sambilanku di sela-sela mengejar musuh atau menunggu kue yang kumasak di game online-ku matang, aku hanyalah pemburu tulisan. Berbagai macam threat, berita, catatan, informasi, dan beragam tulisan lainnya menjadi konsumsiku, dari yang berjenis humor, ilmiah, hingga sastra. Berselancar di dunia maya benar-benar olahraga yang mengasyikkkan. Namun lagi-lagi kukatakan, aku penikmat, bukan produsen tulisan-tulisan itu.

Kali ini aku agak kesal. Kenapa juga harus kata "aku" yang bisa kutulis. Ini benar-benar hal paling narsis dalam hidupku. kata-kata pertama yang tercetus begitu saja, kenapa cuma tiga huruf, dan itu hanyalah sebuah bagian keangkuhan kurasa, betapa tokoh tulisan di dunia ini yang pantas diceritakan hanyalah aku. Ah, ini tidak benar, batinku lirih.
Lalu aku harus menulis apa?

Sebelum benar-benar meniatkan menulis, aku berdiskusi dulu dengan sahabat karibku. Ia adalah sahabat setia yang seringkali lebih mengenal diriku daripada aku sendiri. “bagaimana menurutmu jika aku menulis?” tanyaku ragu. Dalam hati aku takut ia menertawakanku. Dengan mata yang tiba-tiba berbinar, ia menepuk bahuku, “benarkah? Sudah kubilang kan sejak dulu, kamu punya kemampuan untuk menulis. Cobalah dengan cerpen yang sederhana. Aku yakin akan menjadi tulisan perdanamu yang bagus. Kamu punya bakat”

Kalimatnya begitu terngiang-ngiang di kepalaku. Mana sih bakat itu? Kuketok-ketok kepalaku dengan jari tengahku yang terlipat. Jangan-jangan kalimat itu hanyalah cibiran sahabatku itu. Aku terlalu percaya diri sepertinya. Sialnya, sudah sekian jam aku duduk mencari – cari kalimat selanjutnya. Apakah aku akan bangkit dengan sia-sia? Tanpa menuliskan satu kalimatpun? Bukankah aku sosok yang pantang menyerah? Kukejar level demi level dalam game-ku. Apakah menulis akan membuatku pernah menyerah, untuk pertama kalinya? Baru kurasakan sekarang, ternyata menulis memang bukan pekerjaan mudah.

Sebagai pembaca yang aktif, seringkali mudah bagiku untuk berkomentar sana sini tentang tulisan ini dan itu. Sekarang aku tahu, betapa menulis itu membutuhkan tenaga luar biasa. Butuh banyak konsekuensi, kerja keras dan pengorbanan. Ketika tulisan itu sudah mengalir misalnya, masih perlu ada tahap koreksi, apakah tulisan ini layak tampil atau tidak. Sayangnya aku benar-benar tidak bisa bersabar menanti hidayah untuk menulis. Seorang gamers  sepertiku hanya bisa bersabar dalam urusan menaikkan level dan menyelesaikan misi. Tapi bukan dalam pekerjaan satu ini, menulis.

Baiknya, kuucapkan selamat saja bagi para penulis yang telah berhasil menelurkan karya. Kalian memang orang-orang luar biasa yang sangat sabar menaklukkan pekerjaan ini. Benar-benar tak mudah untuk membuat tulisan, aku telah membuktikannya. Kalian orang-orang hebat. Biarkan saja aku menjadi penikmat tulisan semata, tak lagi menjadi komentator. Aku agak kecewa. Namun aku tetap tak berniat melanjutkan pekerjaan berat ini.

Tak lama, akhirnya, kutemukan juga kalimat selanjutnya untuk tulisanku. Aku, bukan penulis.

Surabaya 2008, diselesaikan pada 28 November 2011 di Mojokerto

senja

senjaku lelah menghalau kabut, di kaki langit yang sunyi
kaburkan pandangku di akhir tenggelamnya

kabut, mengawan merintikkan tetes demi tetes kesedihan,, hilangkan cantiknya senjaku
hilangkan cantiknya tak tertatap mataku..

dan akulah hujan itu,
merisaukan senja,, membuatnya tak jingga di ufuk sana
melelahkannya memancarkan rona..
berkabut, lalu aku turun menutupinya

maafkan hujan wahai senja.. kurisaukanmu.. tapi ku memasungmu,
ku takut cahyamu menyinari selainku..


Juli 2010

Sabtu, 30 April 2011

media cetak

Pengantar
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.

Manajemen Media Cetak
Kata manajemen berasal dari management (Inggris) yang diadobsi dari kata manaj (iare) (Italia) yang bermuara pada mamis (Latin) dengan makna tangan. Jadi manajemen dalam arti asalnya adalah memimpin, membimbing atau mengatur (Djuroto, 2000). Secara sederhana manajemen dimaknai sebagai getting result through the work of others. Sementara definisi yang sedikit lebih lengkap dengan mengutip pandangan pakar manajemen Hendry Fayol: “management is the direction of enterprise throught the planning, coordinating and controlling of its human materials resources toward the attainment of pre determined objectives”.Dengan kata lain manajemen mengandung dua pengertian
● Pertama, POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
● Kedua, 6 M (Men, Materials, Machine, Methods, Money, Market) (Soehoet,2002).

Manajemen merupakan konsekuensi logis dari kepercayaan (responsibility) dan kenyataan (reality) yang harus dibuktikan melalui struktur organisasi media cetak yang bersifat formal dan kecakapan yang bersifat fungsional (authority). Diantaranya bidang: redaksi, iklan, pemasaran dll.Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya: peluang usaha, kemampuan SDM, kapital, SWOT dengan kompetitor, keinginan pembaca, perubahan sosial berupa teknologi, ekonomi, politik, budaya dll. Langkah yang perlu dilakukan antara lain: perhatian terhadap lingkungan eksternal, menjual ruang untuk iklan, efesiensi di semua unit usaha, suntikan modal dll. Semua pendapatan diperoleh dari penjualan produk media cetak (eceran, langganan, barter dll), penjualan kolom (iklan baris, duka cita dll) dan penjualan jasa kegiatan off print seperti seminar, pameran dll untuk membentuk image posistif (Djuroto, 2000).

Dengan mengutip pakar komunikasi Kanada Marshall McLuhan yang mengatakan the press is the extention of man, Jakob Oetama mengatakan pers merupakan perpanjangan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap informasi, hiburan, pendidikan dan keingintahuan mengenai peristiwa yang terjadi di sekitarnya (Oetama, 1987). Inilah yang dimanifestasikannya dalam surat kabar KOMPAS yang didirikannya bersama dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965 dengan struktur yang kurang lebih sebagai berikut: Pertama, owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top manager. Terkadang owner identik dengan top manajer. Kedua, top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Ketiga, pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. Keempat, wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas pemimpin umum atau menggantikannya dalam operasionalisasi harian. Kelima, bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. Keenam, bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. Ketujuh, bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi.

Zona Pasar Media Cetak
Pertama, CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. Kedua, PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita dan pelayanan iklannya. Ketiga, RTZ (Retail Trading Zone): wilayah di luar CZ tempat media cetak itu diperjualbelikan. Keempat, NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak itu sebagai pasarnya.

Format Media Cetak

1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia, Republika dll.
2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.
3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.
4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll.

Struktur Organisasi Media Cetak
Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department). Bagian Redaksi dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Bagian Pemasaran dipimpin olen Manajer Pemasaran atau Pemimpin Usaha. Di atas keduanya adalah Pemimpin Umum (General Manager). Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi.
Bagian Redaksi tugasnya meliput, menyusun, menulis, atau menyajikan informasi berupa berita, opini, atau feature. Orang-orangnya disebut wartawan. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi.
Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis. Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi. Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang-orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.

Tugas
1. Pemimpin Umum (General Manager)
Ia bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Ia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.

2. Pemimpin Redaksi
Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di suratkabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan yang perintah atau kebijakannya harus dipatuhi bawahannya. Kewenangan itu dimiliki katena ia harus bertanggung jawab jika pemberitaan medianya ?digugat? pihak lain. Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi (Desk opinion). Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun ? dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi? yang mampu menulisnya dengan menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.

3. Dewan Redaksi
Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.

4. Redaktur Pelaksana
Di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred/Wapemred, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.

5. Redaktur
Redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb.

Redaktur Pracetak
Setingkat dengan Redaktur/Editor adalah Redaktur Pracetak atau Redaktur Artistik. Ia bertanggung jawab menangani? Naskah Siap Cetak? (All In Hand/All Up) dari para redaktur, yaitu semua naskah berita yang sudah diturunkan ke percetakan dan sudah diset bersih, desain cover dan perwajahan (tataletak, lay out, artistik), dan hal-ihwal sebelum koran dicetak. Bagian lain di yang berada di bawah koordinasi Redaktur Pracetak adalah Setter atau juruketik naskah. Ia bertugas mengetik naskah yang akan dimuat. Ada pula Korektor yang bertugas mengoreksi (membetulkan) kesalahan ketik pada naskah yang siap cetak.
• Reporter
Di bawah para editor adalah para Reporter. Mereka merupakan? prajurit? di bagian redaksi. Mencari berita lalu membuat atau menyusunnya, merupakan tugas pokoknya.
• Fotografer
Fotografer (wartawan foto atau juru potret) tugasnya mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang bernilai berita atau untuk melengkapi tulisan berita yang dibuat wartawan tulis. Ia merupakan mitra kerja yang setaraf dengan wartawan tulisan (reporter). Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalistik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik (Journalistic Photography, Photographic Communications). Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan (to inform), meyakinkan (to persuade), dan menghibur (to entertain).
• Koresponden
Selain reporter, media massa biasanya memiliki pula Koresponden (correspondent) atau wartawan daerah, yaitu wartawan yang ditempatkan di negara lain atau di kota lain (daerah), di luar wilayah di mana media massanya berpusat.

Kontributor
Kontributur atau penyumbang naskah/tulisan secara struktural tidak tercantum dalam struktur organisasi redaksi. Ia terlibat di bagian redaksi secara fungsional. Termasuk kontributor adalah para penulis artikel, kolomnis, dan karikaturis. Para sastrawan juga menjadi kontributor ketika mereka mengirimkan karya sastranya (puisi, cerpen, esei) ke sebuah media massa. Wartawan Lepas (Freelance Journalist) juga termasuk kontributor. Wartawan Lepas adalah wartawan yang tidak terikat pada media massa tertentu, sehingga bebas mengirimkan berita untuk dimuat di media mana saja, dan menerima honorarium atas tulisannya yang dimuat. Termasuk kontributor adalah Wartawan Pembantu (Stringer). Ia bekerja untuk sebuah perusahaan pers, namun tidak menjadi karyawan tetap perusahaan tersebut. Ia menerima honorarium atas tulisan yang dikirim atau dimuat.
Bidang Pendukung Redaksi
Bagian yang tak kalah pentingnya untuk membantu kelancaran kerja redaksi adalah bagian Perpustakaan dan Dokumentasi serta bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Litbang memantau perkembangan sebuah penerbitan, survei pembaca, dan memberikan masukan-masukan bagi pengembangan redaksional dan bagian lainnya, termasuk pembinaan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Bagian Usaha (Business Department)
Bertugas menyebarluaskan media massa, yakni melakukan pemasaran (marketing) atau penjualan (saling) media massa. Bagian ini merupakan sisi komersial meliputi sirkulasi/distribusi, iklan, dan promosi. Biasanya, bagian pemasaran dipimpin oleh seorang. Pemimpin Perusahaan atau seorang Manajer Pemasaran (Marketing Manager) yang membawahkan Manajer Sirkulasi, Manajer Iklan, dan Manajer Promosi.

Proses Media Cetak
Pertama, kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.

Contoh LayOut Media Cetak

Majalah
Surat Kabar
Brosur

Pamflet

Baliho

Daftar Pustaka
http://tonz94.wordpress.com/2009/05/02/manajemen-media-massa
http://stefanusakim.wordpress.com/2007/12/09/manajemen-keredaksian
http://komunikasi-kita.blog.friendster.com/2007/02/manajemen-media-media-cetak-dan-elektronik

Perubahan Sosial Masyarakat Madura sebagai Akibat dari Pembangunan Suramadu

Menjelang detik – detik peresmian jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), seperti menjelang detik – detik ijab qabul pasangan suami istri. Setelahnya, akan ada kehidupan baru bagi kedua pasangan, Surabaya dan Madura, yang dipersatukan oleh jembatan Suramadu. Kehidupan baru ini, memicu adanya perubahan sosial yang pasti terjadi, khususnya di sekitar jalur jembatan Suramadu. Perubahan sosial yang muncul dipastikan akan mempengaruhi banyak aspek – aspek kehidupan masyarakat sekitar jembatan Suramadu, khususnya Masyarakat Madura sebagai objeknya. 

Tentu saja disini perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Madura bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses. Perubahan sosial ini merupakan sebuah keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat Madura sebagai reaksi adanya perubahan teknis kewilayahan akibat dari pembangunan jembatan Suramadu.

Kurt Lewin yang dikenal sebagai bapak manajemen perubahan, mengenalkan konsep yang dikenal dengan model force-field yang diklasifikasi sebagai model power-based karena menekankan kekuatan-kekuatan penekanan. Menurutnya, perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap kelompok, individu, atau organisasi. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Sama halnya dengan yang sedang dihadapi masyarakat Madura yang mendapat tekanan, yaitu tekanan menghadapi fakta keberadaan Suramadu yang sangat disadari akan membawa banyak pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat Madura sendiri. Namun, masyarakat Madura menanggapi driving forces sebagai pengaruh positif yang dapat dimanfaatkan untuk perubahan sosial ke arah positif pula. Masyarakat Madura justru mereduksi resistences to change, dengan menemukan peluang perbaikan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, dan peningkatan pelayanan kesehatan. Dengan adanya Suramadu diharapkan mampu mentransfer pola – pola kehidupan sosial penduduk Surabaya sebagai servis baru dalam pola kehidupan masayarakat Madura.

Dalam sebuah master plan yang dirancang untuk kedua wilayah jalur Suramadu, tergambar perubahan model tata ruang wilayah yang sangat signifikan. Digambarkan bahwa di kedua wilayah berubah menjadi pusat kehidupan dari wilayahmasing- masing, dengan jalan utama dan bangunan – bangunan utama yang menunjang segala kebutuhan dua wilayah tersebut. Gambar ini menunjukkan adanya reaksi terhadap perubahan sosial. Dalam hal ini perubahan sosial tidak muncul dengan sendirinya, melainkan memang direncanakan.

Masyarakat Madura menyadari sepenuhnya bahwa akan ada perubahan sosial, sehingga, diluar keterkaitan dengan master plan yang dimaksudkan, masyarakat madura juga telah merencanakan sendiri perubahan sosial tersebut. Masyarakat mulai mencari peluang dan menemukan kesempatan – kesempatan untuk memperbarui pola – pola kehidupan. Terlihat setelah diresmikannya Jembatan Suramadu, masyarakat berbondong – bondong membuka lapangan penghasilan disekitar jembatan Suramadu. Mengarah masuk ke Kota Bangkalan, juga mulai mucul berbagai fasilitas kemasyarakatan yang dibangun sebagai bentuk penerimaan terhadap adanya orang – orang baru dan investor yang nantinya akan mendatangi Madura. Telah muncul gerai fastfood, pasar induk yang diimplementasikan dari bentuk mall, cafe, dan bangunan – bangunan lain yang mengidentifikasikan kehidupan perkotaan seperti di Surabaya. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Madura akan banyak meniru pola kehidupan sosial masyarakat Surabaya, sebagai bentuk transfer, yang kini telah mudah, yaitu melalui Jembatan Suramadu.

Asumsi masyarakat adalah bahwa dengan adanya Jembatan suramadu tidak sekedar menghubungkan, melainkan telah menyatukan antara Surabaya dengan Madura. Sehingga sesuatu yang satu itu adalah sama. Masyarakat Madura yang notabene secara kultural maupun bahasa sangat berbeda dengan masyarakat Surabaya, nantinya akan menjalani proses perubahan sosial untuk menyamakan diri dengan masyarakat Surabaya, sebagai suatu hal yang satu. Mengapa bukan sebaliknya? Tentu kita menyadari, bahwa perubahan selalu terkait dengan arah yang positif dan maju, sehingga yang berubah itu adalah dari yang tradisional menuju modernisasi. 

Menurut Max Weber dalam Berger (2004), bahwa, tindakan sosial atau aksi sosial (social action) tidak bisa dipisahkan dari proses berpikir rasional dan tujuan yang akan dicapai oleh pelaku. Perubahan sosial yang diupayakan masyarakat Madura, diharapkan mengarah kepada arah yang positif, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan sosial. Peningkatan kualitas perekonomian, perbaikan mutu pendidikan, kelengkapan fasilitas kehidupan, serta kelayakan berkehidupan menjadi harapan yang digantungkan pada pemanfaatan jembatan Suramadu. Sudah barang tentu, perubahan sosial ini nantinya akan menyebabkan perubahan kultural, bahasa, dan moralitas. 

Perubahan tersebut tidak selalu mengarah kepada hal yang positif sebagaimana yang diharapkan, sekalipun telah direncanakan. Khususnya perubahan moralitas, mengikuti modernisasi, dimana masyarakat modern Surabaya telah sangat dipengaruhi oleh modernisasi Barat. Perilaku – perilaku Barat telah menjadi tolak ukur, sekalipun banyak yang bertentangan dengan nilai ke-Timuran. Sehingga yang menjadi tantangan terberat bagi masyarakat Madura adalah bagaimana nantinya mengambil sari – sari kehidupan masyarakat Surabaya tanpa menghilangkan nilai moralitas dan kultural masyarakat Madura itu sendiri. Masyarakat Madura sebagai masyarakat yang agamis harus tetap menjaga nilai – nilai yang telah melekat, sekalipun nantinya perubahan telah benar – benar terjadi pada masyarakat Madura Pasca tejadinya transfer kehidupan sosial dari Surabaya menuju Madura melalui Jembatan Suramadu. Semoga Madura semakin maju dan modern. (UTM; 2009)


 Artikel ini mengantarkanku terpilih sebagai Asisten Dosen dalam seleksi bersama dua peserta lainnya, pada semester ketiga kuliahku..

coverku

Pemulihan Kesehatan Jiwa Pasien di Lembaga Rehabilitasi Narkoba/Napza Melalui Komunikasi Terapeutik





PROPOSAL SEMINAR

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya
Universitas Trunojoyo
untuk Ujian Proposal




Oleh:

Yuliana Setia Rahayu
08.05.311.00037






JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO BANGKALAN
MADURA
2011

cerita

dulunya Q pny blog kecil bernama kupu2 biru.. tampilannya cantik.. tapi Q lebih suka blog buatan sahabatku ini.. lebih cantik.. terimaksih ya...